gNews.co.id – Unjuk rasa puluhan jurnalis di Kota Palu yang tergabung dalam KRJ Sulteng di depan kantor Gubernur diwarnai teriakan masih beranikah.
Di mana kata Berani menjadi akronim dari pasangan Gubernur dan Wagub Sulteng, Anwar Hafid-Reny A. Lamadjido (Berani).
Tidak hadirnya Gubernur Anwar Hafid menyambut unjuk rasa puluhan jurnalis dinilai tak berani untuk audiens dan mendengar tuntutan massa aksi.
Psda kesempatan itu, Koalisi Roemah Jurnalis Sulawesi Tengah (KRJ-Sulteng) menolak berudiens dengan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Faharudin D. Yambas dalam aksi unjuk rasa memperingati Hari Buruh Internasional dan Hari Kebebasan Pers Sedunia, Jumat (2/5/2025).
Penolakan tersebut muncul setelah massa aksi mendapat informasi bahwa Gubernur Sulteng, Anwar Hafid yang semula dijadwalkan menerima mereka, berhalangan hadir karena harus berangkat ke Jakarta.
Aksi yang diinisiasi oleh sejumlah organisasi pers anggota Dewan Pers seperti AJI Palu, IJTI Sulteng, AMSI Sulteng, dan JMSI Sulteng ini memilih membatalkan audiensi karena tidak ingin tuntutan mereka disampaikan melalui perwakilan.
Kepercayaan yang Pudar pada Perwakilan
Elwin Kandabu, jurnalis ayotahu.id, menyatakan bahwa penolakan audiensi dengan Asisten I didasari oleh keraguan bahwa aspirasi mereka akan sampai ke Gubernur.
“Kami kurang yakin jika tuntutan kami disampaikan melalui asisten akan diterima langsung oleh Pak Gubernur. Ada hal penting yang harus disampaikan secara langsung agar mendapat atensi penuh,” tegas Elwin dalam orasinya.
Pernyataan senada disampaikan Andi Abdillah dari diksi.id, yang menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa tuntutan yang disampaikan melalui perwakilan seringkali tidak sampai ke pimpinan tertinggi.
“Kami tidak mau tuntutan ini hanya berakhir di laci meja perwakilan. Kami ingin respons langsung dari pemegang kebijakan,” ujar Andi.
Sedangkan informasi yang berhasil dihimpun bahwa Gubernur Anwar Hafid sedang memimpin rapat di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulteng.
Setelah beberapa menit berorasi, massa aksi membubarkan diri dan meninggalkan lokasi, sementara pejabat yang telah menunggu pun akhirnya mengakhiri persiapan audiensi.
Tuntutan Jurnalis di Tengah Tantangan Industri Media
Tahun 2025 menjadi tahun suram bagi dunia jurnalistik Indonesia. Gelombang PHK melanda industri media, sementara banyak jurnalis belum sepenuhnya memahami pentingnya serikat pekerja.
Di daerah, nasib jurnalis kontributor yang sering bekerja tanpa status tetap dan upah layak semakin memprihatinkan.
Baca: Babak Baru Misteri Kematian Jurnalis SW: LBH Pers Ditetapkan Keluarga sebagai Kuasa Hukum














Komentar