Stigma Proyek Abadi Jalan Kebun Kopi tak Benar, Ini Penjelasan Kepala BPJN Sulteng

gNews.co.id – Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah, Dadi Murdadi menyatakan bahwa proyek jalan nasional Kebun Kopi bukan ‘proyek abadi’ seperti stigma yang beredar.

Proyek tersebut tak kunjung selesai, namun ada hal-hal yang secara teknis tetap menjadi tanggung jawab BPJN.

Menurutnya, penanganan jalan yang menghubungkan Kota Palu, Donggala, dan Parigi Moutong sepanjang 40 kilometer tersebut sudah berjalan sesuai rencana, meski saat ini hanya dalam tahap pemeliharaan rutin.

Hal itu Dia sampaikan menanggapi sorotan masyarakat terkait kondisi jalan tersebut pada akhir Agustus lalu.

“Sebetulnya, ini bukan proyek abadi. Setiap tahun ada alokasi dana untuk pemeliharaan jalan nasional, termasuk ruas Kebun Kopi. Semua mendapatkan perhatian yang sama melalui pemeliharaan rutin,” jelas Dadi.

Ia menegaskan, sejak 2022 tidak ada lagi alokasi dana besar untuk proyek ini. Sebelumnya, pekerjaan utama dilakukan pada 2019 hingga 2021, dengan fokus perbaikan di enam titik besar pasca gempa.

Saat ini, lanjutnya, hanya pemeliharaan rutin yang dilakukan, dengan anggaran yang terus menurun setiap tahunnya.

Pada 2024, BPJN hanya menganggarkan Rp40 miliar untuk pemeliharaan Kebun Kopi, jauh lebih kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Fokus utama adalah menangani longsoran di lereng bawah yang berpotensi membahayakan pengendara.

“Dengan medan yang melintasi bukit sepanjang 25 kilometer, longsor sering terjadi, terutama di tikungan dan lereng. Ketika longsoran menggerus setengah badan jalan, kami harus segera bertindak demi keselamatan pengguna jalan,” katanya.

Dadi juga menambahkan, meskipun hanya beberapa titik yang mendapatkan penanganan, hal itu sudah memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran lalu lintas dibandingkan kondisi sebelumnya. Usai gempa 2018, kondisi jalan sempat memburuk dengan seringnya longsor yang memutus akses, terutama pada malam hari.

“Kondisi jalan Kebun Kopi saat ini sudah jauh lebih baik. Medannya tidak seberat dulu,” ujar Dadi.

Karena itu, Dia tidak sepakat jika proyek ini dianggap sebagai proyek abadi. Menurutnya, Kebun Kopi tetap menjadi prioritas karena merupakan jalur utama yang menghubungkan lintas barat dan timur Sulawesi Tengah.

“Jalur alternatif melalui Pasir Putih masih jauh dari kata layak. Jadi, Kebun Kopi tetap menjadi akses utama yang harus dipelihara agar tidak mengganggu transportasi,” tandasnya.

Baca: Proyek ‘Abadi’ Kebun Kopi Mengapa tak Kunjung Selesai, Adakah Pihak Dapat Komisi?

Komentar