gNews.co.id,- Secangkir kopi mungkin tidak seberapa nilainya. Namun, di balik kebiasaan menyeruput kopi bersama, tersimpan cerita tentang persahabatan, kebersamaan, dan persaudaraan yang terus dirawat.
Semangat itulah yang terlihat dalam pertemuan sekitar 50 anggota Kedai Pencinta Kopi (KPK) Luwuk di kediaman Haji Haris, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sabtu (17/10/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda berkumpul. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para anggota untuk kembali mempererat hubungan, berbagi cerita, dan menikmati kebersamaan tanpa mempersoalkan perbedaan profesi maupun latar belakang.
Kopi Walet dan kapurung menjadi bagian dari suasana akrab yang terbangun. Canda tawa, makan bersama, dan hiburan karaoke membuat pertemuan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan.
KPK Luwuk sendiri tumbuh dari kebiasaan sederhana. Dahulu, sejumlah orang bertemu di sebuah kedai kopi di Jalan R.A. Kartini Nomor 27, Luwuk. Kedai tersebut kemudian berpindah ke Jalan Garuda, Kelurahan Luwuk.
Tempat itu bukan hanya menjadi lokasi menikmati kopi, tetapi juga ruang bertemunya orang-orang dari berbagai kalangan.
Pemilik kedai yang dikenal dengan sapaan Puang Haji Uci turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Seiring waktu, pertemanan yang terjalin di kedai berkembang menjadi komunitas yang tetap menjaga komunikasi melalui grup WhatsApp.
Di dalam KPK, beragam profesi bertemu. Ada pengusaha, kepala cabang dealer, kontraktor, pemilik pondok, Direktur , ASN, jurnalis, hingga pekerja lapangan dan Pensiunan jadi satu.
Mereka memiliki kesibukan dan perjalanan hidup masing-masing. Ada yang merupakan warga asli Banggai, ada pula yang datang merantau untuk bekerja, mencari penghidupan, dan membangun usaha.
Namun, ketika berkumpul, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi sekat.
Haji Haris, selaku tuan rumah, mengatakan bahwa silaturahmi tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus kesempatan untuk berbagi kebahagiaan bersama teman-teman yang telah menjadi bagian dari komunitas KPK.
Menurutnya, persaudaraan tidak ditentukan oleh jabatan, pekerjaan, ataupun asal-usul seseorang. Hal terpenting adalah kemauan untuk menjaga hubungan baik dan saling menghargai.
Di dalam grup ini, kita tidak melihat siapa yang memiliki pekerjaan apa. Yang terpenting adalah silaturahmi, persaudaraan, dan bagaimana kita bisa saling berbagi,” ungkap Haji Haris.
Ia tidak menampik bahwa dalam perjalanan sebuah komunitas, perbedaan pilihan dan pandangan terkadang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Situasi tersebut bahkan bisa membuat hubungan yang sebelumnya akrab menjadi renggang.
Karena itu, ia berharap setiap perbedaan dapat disikapi dengan kedewasaan. Komunikasi perlu dijaga agar persoalan tidak berkembang menjadi kecurigaan yang justru merusak persahabatan.
Baginya, grup WhatsApp KPK seharusnya menjadi ruang untuk bertukar informasi, berbagi kabar, dan mempererat hubungan, bukan tempat untuk memperbesar perbedaan atau mempertahankan ego masing-masing.
Intinya, mari kita bergandengan tangan, bukan bermusuhan. Kita jadikan KPK sebagai tempat untuk tertawa bersama, saling berbagi, dan mempererat persaudaraan, bukan untuk saling mencurigai,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi inti dari pertemuan di Batui. Sebab, menjaga persaudaraan bukan berarti harus selalu memiliki pendapat yang sama, melainkan mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan rasa saling menghormati.
Kebersamaan juga tidak selalu membutuhkan acara besar atau hidangan mewah. Terkadang, duduk bersama, berbagi makanan, menikmati kopi, dan mendengarkan cerita satu sama lain sudah cukup untuk menjaga hubungan tetap hangat.
Bagi KPK Luwuk, kedai kopi telah menjadi titik awal pertemanan yang kemudian berkembang menjadi ikatan sosial. Melalui pertemuan di Batui, para anggota kembali diingatkan bahwa persahabatan perlu dirawat melalui komunikasi dan kepedulian.
Sebab, secangkir kopi bisa habis dalam beberapa tegukan, tetapi nilai persaudaraan akan tetap berarti ketika setiap orang bersedia menjaga kebersamaan.(DQ74).








Komentar