Mantan Bupati Morowali ini memandang jabatan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan sebagai amanah moral yang harus dijalankan dengan kesungguhan.
Nilai-nilai keagamaan dijadikan landasan etika dalam pengambilan kebijakan dan sikap kepemimpinan.
Hal ini tercermin dalam kebijakan internal yang mewajibkan shalat berjamaah bagi pegawai pada waktu shalat.
“Pak Anwar muncul sebagai citra yang berbeda dengan gubernur yang lain dalam hal religiusitas dengan keharusan shalat jamaah bagi pegawai pada waktu shalat,” jelas Nuralam.
Kehadiran Gubernur Anwar Hafid dalam berbagai aktivitas keagamaan, termasuk shalat berjamaah dan dialog spiritual dengan masyarakat, semakin memperkuat citranya sebagai pemimpin yang religius sekaligus inklusif.
Pendekatan ini menciptakan model kepemimpinan yang mengintegrasikan pembangunan fisik dan mental-spiritual, memberikan dimensi baru dalam tata kelola pemerintahan di Sulteng.










Komentar