gNews.co.id, Dari Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pemerhati lingkungan sekaligus Koordinator Satupena Sulteng, Rastono Sumardi, S.Pd., M.E, mengangkat isu krisis sampah dengan pendekatan literasi dan kesadaran ekologi.
Pada Minggu, 3 Agustus 2025, dalam sebuah diskusi daring, Rastono menyampaikan pandangannya terkait pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik dan organik, serta pentingnya edukasi moral berbasis karya sastra.
Ia yang juga dikenal sebagai pencipta aplikasi literasi dan pendiri komunitas Bonua Sastra, menyoroti pentingnya kesadaran individu dalam menangani limbah rumah tangga, sembari mengapresiasi karya sastra berjudul “Suwung (yang) Lagi Ramai” karya Wayan Suyadnya yang dinilai mengandung pesan moral mendalam soal relasi manusia dengan alam.
Dalam pernyataannya, Rastono menegaskan bahwa penggunaan kantong plastik harus diarahkan pada bahan yang ramah lingkungan dan mudah melebur bersama tanah.
Ia mengingatkan bahwa pemandangan sampah plastik yang mengotori lingkungan kini sudah dianggap hal biasa, padahal dampaknya sangat serius bagi masa depan bumi.
Melalui tujuh pesan moral dalam karya “Suwung yang Lagi Ramai”, Rastono mengajak masyarakat untuk :
- Menghargai siklus alami alam dan membedakan antara sampah organik dan anorganik.
- Menyadari bahwa manusia adalah penyebab sekaligus solusi dari krisis sampah.
- Memulai perubahan dari rumah masing-masing dengan mengelola sampah secara mandiri
- Tidak menyamakan bahan organik dengan plastik karena dampaknya sangat berbeda.
- Mendorong sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berhenti di rumah tangga.
- Menumbuhkan semangat gotong royong lintas sektor.
- Menjadikan cara mengelola sampah sebagai cermin moral dan budaya bangsa.
Ia juga menyoroti keputusan Pemerintah Denpasar yang menutup pintu TPA Suwung bagi sampah organik sejak 1 Agustus 2025. Kebijakan ini, kata Rastono, seharusnya disambut baik sebagai bentuk edukasi publik, bukan dipahami keliru sebagai langkah mundur.
Rastono mengakhiri pernyataannya dengan ajakan untuk menyikapi sampah sebagai tanggung jawab bersama.
Sampah adalah cermin dari siapa kita sebenarnya dan sejauh mana kita menghargai alam serta kearifan lokal seperti Tri Hita Karana,” ujarnya.








Komentar