Berharap Desember Penuh Berkah: Cemas Bencana Menatap Ekspansi Tambang, Sawit, hingga Maraknya PETI

Tak lama lagi azan Magrib berkumandang, menandai masuknya bulan Rajab dalam kalender Hijriah yang penuh berkah.

Oleh: Sofyan Farid Lembah

Sebuah bulan mulia yang membuka gerbang tiga bulan suci Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan yang seyogianya dijalani dengan tafakur, perenungan diri, serta peningkatan kualitas ibadah.

Momentum spiritual ini sejatinya bukan hanya panggilan bagi individu, tetapi juga peringatan bagi para pemimpin yang memikul amanah rakyat.

Bagi para penguasa di Sulawesi Tengah (Sulteng) baik gubernur, bupati, maupun wali kota Rajab tahun ini menyimpan makna yang lebih dalam.

Ada kegelisahan yang tak terucap, perasaan deg-deg plash yang wajar muncul, menyusul peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang potensi bencana hidrometeorologi yang diprediksi memuncak di penghujung Desember.

Peristiwa bencana di sejumlah wilayah Sumatera menjadi cermin betapa dahsyat dan nyatanya ancaman tersebut.
Kekhawatiran itu kian beralasan ketika kita menoleh pada kondisi Sulteng sendiri.

Salah kelola sumber daya alam mulai dari pembukaan hutan, ekspansi pertambangan, hingga perkebunan kelapa sawit terutama maraknya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), telah menanam benih bencana ekologis.

Bahkan, tanpa harus melihat jauh ke pelosok, penebangan pohon di sekitar rumah jabatan Gubernur di Siranindi II menjadi contoh kecil yang cukup menggambarkan betapa rapuhnya keseimbangan lingkungan, hingga memantik kemarahan sang penguasa sendiri.

Padahal, Sulteng bukan wilayah tanpa pengalaman. Kita telah melewati beragam krisis: konflik sosial, bencana non-alam seperti pandemi Covid-19, hingga bencana alam maha dahsyat 28 September 2018.

Dengan rekam jejak tersebut, tak ada lagi ruang bagi sikap gagap, apalagi kehilangan kepercayaan diri. Semua itu seharusnya telah bermuara pada satu keniscayaan: perencanaan mitigasi bencana yang matang, terukur, dan berkelanjutan.

Namun, sebaik dan sehebat apa pun perencanaan, kunci utamanya tetap terletak pada kepemimpinan.

Seorang penguasa harus berdiri paling depan memimpin langsung pada masa tanggap darurat, serta memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berjalan adil dan manusiawi.

Ini bukan soal menakut-nakuti, apalagi berharap bencana datang, melainkan tentang membangun early warning system kebencanaan yang berpijak pada kesadaran, ilmu, dan keberpihakan pada keselamatan rakyat.

Memasuki bulan Rajab yang penuh berkah ini, ada baiknya kita semua terutama para pemimpin memperbanyak doa dan zikir.

Memohon ampun atas segala kekhilafan, sekaligus berharap agar Allah SWT menjadikan doa-doa itu sebagai penolak bala. Doa seorang pemimpin memiliki daya yang luar biasa, terlebih ketika ia menyadari bahwa jabatan hanyalah amanah dunia yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bersimpuh memohon keselamatan bagi rakyatnya, seraya meminta keberkahan atas datangnya tiga bulan suci yang selalu dirindukan umat Islam.

Wassalam.

Baca: Mengurai ‘Serakanomics’ di Parigi Moutong: Krisis Kepercayaan dan Tumpulnya Penegakan Hukum PETI

Silae, Palu, 20 Desember/1 Rajab 1447 H

Penulis adalah tokoh masyarakat, mantan Kepala Perwakilan Ombdusman Sulteng, sekalogus Social Worker

Komentar