Syafruddin menambahkan bahwa kehadiran Grand Sya Hotel di tengah kota tidak hanya menambah infrastruktur perhotelan berbintang, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
“Kami ingin Palu bangkit, dan Grand Sya Hotel menjadi bagian dari perjalanan itu. Ini bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang harapan,” tambahnya.
Kembalinya hotel ini disambut hangat oleh masyarakat dan pelaku usaha pariwisata. Selain meningkatkan kapasitas hunian, Grand Sya Hotel juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menjadi pusat berkumpulnya ide, pertemuan, serta kenangan baru bagi kota yang telah melewati badai.
Palu mungkin pernah retak, namun semangat warganya tetap utuh. Hari ini, Grand Sya Hotel berdiri sebagai saksi bisu bahwa dari puing-puing kehancuran, kebangkitan selalu mungkin terjadi, asalkan dikerjakan dengan cinta dan kesungguhan.
Baca: Shinta W. Kamdani Sebut APINDO Siap Jadi Mitra Stretegis Pemda Sulteng atasi Paradoks Ekonomi














Komentar