gNews.co.id – Dugaan perundungan di lingkungan Universitas Tadulako (Untad) berujung pada laporan polisi.
Seorang mahasiswa Fakultas Teknik berinisial KRG melaporkan dua seniornya ke Polresta Palu atas dugaan pengeroyokan dan penganiayaan.
Laporan tersebut dibuat KRG pada Selasa (6/10/2026) dengan nomor LP/B/1196/X/2026/SPKT/Polresta Palu/Polda Sulteng.
Dalam laporan polisi, KRG mengaku peristiwa bermula ketika ia dipanggil dua senior berinisial Al dan Mk.
Saat itu, salah seorang terlapor disebut mempertanyakan persoalan yang berkaitan dengan seorang dosen.
“Kau yang bikin menangis dosen,” demikian ucapan yang disebut disampaikan kepada korban.
KRG mengaku kemudian meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Namun, menurut keterangannya dalam laporan, terlapor memukul dan menendangnya berulang kali.
Tidak berhenti di situ, terlapor lainnya disebut menyulutkan rokok ke tangan kiri korban. KRG juga mengaku diperintahkan melepas pakaiannya hingga hanya mengenakan celana dalam.
Akibat kejadian tersebut, korban mengaku mengalami sejumlah keluhan fisik, antara lain sakit pada kedua telinga dan lengan, sakit kepala, bengkak pada pipi kiri, serta nyeri pada kedua paha dan bagian perut.
Laporan KRG ke Polresta Palu kini menjadi dasar kepolisian untuk menindaklanjuti dugaan penganiayaan.
Status dan keterangan para pihak masih menunggu proses penyelidikan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari pihak kepolisian.
Kasus ini menjadi sorotan karena dugaan kekerasan tersebut terjadi dalam relasi senior-junior di lingkungan perguruan tinggi.
Respons Pihak Untad
Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) melakukan penelusuran terkait dugaan pengeroyokan terhadap mahasiswa yang diduga dilakukan sejumlah mahasiswa senior.
Penelusuran dilakukan menyusul informasi mengenai dugaan kekerasan yang diberitakan di media.
Berdasarkan penelusuran awal fakultas, persoalan tersebut bermula saat proses perkuliahan berlangsung.
Dosen berinisial FJ menegur tiga mahasiswa yang menggunakan telepon seluler selama kegiatan belajar mengajar. Teguran dilakukan beberapa kali, tetapi tidak diindahkan.
Pada akhir perkuliahan, FJ memberikan peringatan kepada mahasiswa yang bersangkutan. Dalam situasi tersebut, FJ disebut sempat menangis akibat kondisi yang terjadi selama perkuliahan.
Kondisi itu kemudian diketahui sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Arsitektur.
Sekitar pukul 20.24 WITA, FJ mengaku menerima informasi dari Ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur bahwa dua mahasiswa laki-laki yang sebelumnya ditegur diduga menjadi korban pemukulan oleh mahasiswa lainnya.








Komentar