Forum Muda Alumni PMII Sulteng Gelar Dialog Publik Tentang Kontestasi Ketum PBNU

Dalam analisis yang berkembang di forum, ketiadaan SK yang dinyatakan oleh Rusdin dipahami sebagai faktor yang membuat dukungan atau suara yang dibangun di tingkat daerah belum memiliki bobot konsolidasi yang kuat dalam memilih calon ketua PBNU di arena Muktamar mendatang. Hal ini dinilai akan berdampak terhadap dukungan bagi Prof. Nasaruddin Umar.

Nasaruddin Umar Figur Ideal

Pada sesi berikutnya, akademisi UIN Datokarama Palu Mohammad Sadiq memaparkan dinamika politik menjelang Muktamar PBNU, termasuk peluang sejumlah figur yang dinilai memiliki kapasitas memimpin organisasi. Ia menyampaikan bahwa Nasaruddin Umar merupakan salah satu figur yang layak diperhitungkan dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.

Ia menilai Menteri Agama tersebut bukan sosok yang berambisi mengejar jabatan karena tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai calon. Namun, apabila amanah kepemimpinan diberikan kepadanya, Prof. Nasaruddin Umar dinilai memiliki kapasitas untuk menyatukan berbagai elemen di tubuh Nahdlatul Ulama.

“Prof. Nasaruddin itu sosok yang saya melihat yang ideal. Dia mampu menyatukan kondisi, dia mampu mengkomunikasikan segala sesuatu,” paparnya.

Pada sesi dialog, peserta forum turut memberikan pandangan terkait pentingnya kapasitas kepemimpinan dalam menentukan figur Ketua Umum PBNU. Sejumlah peserta menilai kepemimpinan NU ke depan membutuhkan sosok yang mampu memadukan tradisi keulamaan, kapasitas intelektual, serta kemampuan menjawab tantangan organisasi di tingkat nasional.

Tiga Isu Utama

Menutup diskusi, Ketua Forum Muda Alumni PMII, Moh. Alwi Pakaya, selaku moderator, merangkum tiga isu utama yang menjadi benang merah diskusi, yakni:

1. Pentingnya gagasan baru yang ditawarkan kader muda alumni PMII;
2. Konsolidasi internal alumni PMII dalam menghadapi Muktamar PBNU; serta
3. Kriteria ideal pemimpin NU di masa depan yang mampu menjadi pemersatu umat sekaligus menjawab tantangan organisasi.

Baca: Apa Saja Agenda Munas XI KAHMI yang Dibuka Presiden? Biaya Rp 14 Miliar, Dihadiri 6 RIbu Orang

Komentar