Lebih lanjut, Adi menjelaskan bahwa bergabung dengan NDB memberikan Indonesia alternatif pembiayaan yang lebih setara dibanding hanya bergantung pada negara-negara Barat.
“Ini adalah wujud nyata dari prinsip politik luar negeri bebas aktif. Artinya, Indonesia tidak hanya mengandalkan perjanjian bilateral dengan negara-negara Eropa atau Amerika, tetapi juga memiliki opsi pendanaan lain yang lebih berkeadilan melalui NDB,” katanya.
Dorongan untuk Hilirisasi dan Infrastruktur
Adi Prianto juga menyampaikan bahwa PRIMA mendukung penuh keputusan ini, terutama dalam kaitannya dengan percepatan hilirisasi industri nasional.
Ia menekankan pentingnya memanfaatkan keanggotaan Indonesia di NDB untuk pembangunan kilang energi baru serta pengembangan infrastruktur sosial yang akan berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.
“Keberadaan NDB akan membantu Indonesia dalam mendapatkan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan, seperti jalan, jembatan, dan kilang energi. Ini langkah penting dalam mendorong pemerataan pembangunan serta membuka lapangan kerja baru di seluruh Indonesia,” jelas Adi.
Sebagai informasi, New Development Bank (NDB) merupakan lembaga keuangan multilateral yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) untuk mendukung pembiayaan proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang.
Dengan fokus pada pendanaan yang transparan dan adil, NDB bertujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi serta pengentasan kemiskinan di negara-negara anggotanya.
Bergabungnya Indonesia dengan NDB diharapkan akan memperkuat kemandirian ekonomi nasional dan membuka peluang baru dalam kerja sama internasional yang lebih berkeadilan.
Baca: Ketua DPW PRIMA Sulteng Ucapkan Selamat kepada Anwar-Reny: Soroti Isu Kemiskinan dan Konflik Agraria














Komentar