Kain Tradisional Indonesia Segera Promosi di Qatar

Mel Ahyar menampilkan koleksi yang dinamakan “Kawin Campur 2.0” (Mixed Marriage) yang mengombinasikan tujuh motif tenun, yaitu tenun Lombok, ikat NTT, ikat endek Bali, tenun Garut, lurik, tenun Badui dan tenun Jawa Tengah, menjadi sebuah karya yang unik dan elegan.

Danjyo Hiyoji memperkenalkan perpaduan kain tenun dari berbagai daerah, yakni Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Lombok, Bali, dan NTT dengan ciri khas fesyen jalanan (street fashion). Karyanya kental dengan tampilan anak muda yang tergabung dalam 10 koleksi bernama “Titik Temu”.

Sementara Eridani, dengan koleksi “Kulturati”, mengkreasikan berbagai motif kain tenun berbagai daerah menjadi busana yang mengedepankan sifat feminin, berani, dan bergaya.

Pameran busana itu diharapkan semakin memperkenalkan karya-karya fesyen anak bangsa dengan keunikan kain tradisional yang merupakan warisan kekayaan leluhur, yang tidak saja menjadi identitas Indonesia sebagai bangsa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menghidupi para perancang busana, pelaku usaha fesyen, hingga pengrajin kain tradisional di Indonesia, kata KBRI.

KBRI Doha berharap produk fesyen, perancang busana, dan kain-kain serta tekstil Indonesia dapat lebih dikenal di Qatar dan dapat memasuki pasar Qatar.

Selain pameran dan peragaan busana, pada hari kedua kegiatan juga diadakan lokakarya kain tradisional serta interaksi pengunjung melalui acara “Meet and Greet” dengan tiga perancang Indonesia.

Peminat fesyen di Qatar dapat mengenal lebih jauh kain tradisional Indonesia serta produk fesyen Indonesia yang memanfaatkan kekayaan kain-kain tradisional tersebut langsung dari para pelaku industri fesyen Indonesia, kata KBRI Doha.

Sumber | ANTARA
Editor     | MAHBUB

Komentar