Menurutnya, toleransi menjadi salah satu fondasi dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman. Mahasiswa, kata dia, perlu memahami sekaligus menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila dan kerukunan beragama ada kaitannya dengan toleransi. Adik-adik mahasiswa harus paham dengan kata toleransi dan kehidupan harmonis. Kita perlu bermusyawarah dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Kita tidak boleh anarkis,” ujar Prof. Zainal.
Ia menegaskan, perbedaan agama tidak seharusnya menjadi sumber konflik di tengah masyarakat.
“Perbedaan agama jangan dijadikan suatu permasalahan. Perbedaan agama adalah sesuatu yang harus kita hormati dan kita sikapi dengan toleransi,” tegas Prof. Zainal.
Ia mahasiswa dapat mengambil peran dalam menjaga kehidupan yang damai dan harmonis di Sulteng yang memiliki keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang.
Longki menambahkan, sosialisasi empat pilar merupakan bagian dari tugas kelembagaan MPR RI untuk membumikan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.
“Kami sebagai anggota MPR RI akan terus hadir di tengah rakyat, bertemu dengan mahasiswa, berdialog dengan pemuda, serta berdiskusi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat. Kita tidak ingin nilai-nilai kebangsaan hanya tersimpan dalam buku,” tandasnya.














Komentar