gNews.co.id,- Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius pada kalangan remaja putri di Kabupaten Banggai. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap prestasi belajar, produktivitas, serta kesehatan reproduksi di masa mendatang.
Hal tersebut terungkap dalam Policy Brief berjudul “Analisis Hubungan Pemberian Tablet Tambah Darah dan Skrining Anemia pada Remaja Putri dengan Prevalensi Anemia di Kabupaten Banggai Tahun 2026” yang disusun oleh Nining Rifly Tokari, Mahasiswa Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Luwuk.
Dalam kajian tersebut dijelaskan pada saat penelitian tanggal, 24 maret 2026 bahwa remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia karena meningkatnya kebutuhan zat besi selama masa pertumbuhan dan menstruasi.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menjalankan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) mingguan serta skrining anemia sebagai upaya menekan angka anemia di kalangan remaja.
Namun demikian, implementasi program di Kabupaten Banggai masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya rendahnya kepatuhan konsumsi TTD, distribusi tablet yang belum merata, keterbatasan sarana skrining hemoglobin, serta kurangnya edukasi mengenai pentingnya pencegahan anemia.
Berdasarkan analisis yang dilakukan menggunakan pendekatan Input, Proses, dan Output (IPO), ditemukan bahwa kepatuhan konsumsi TTD dan pelaksanaan skrining anemia secara rutin memiliki hubungan dengan rendahnya prevalensi anemia pada remaja putri.
Pada aspek input, Kabupaten Banggai telah memiliki dukungan program nasional, jejaring pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan sekolah, tenaga kesehatan, serta dukungan pendanaan program gizi. Meski demikian, masih terdapat kendala berupa rendahnya kepatuhan konsumsi TTD dan sistem pelaporan yang belum terintegrasi secara optimal.
Sementara pada aspek proses, pemberian TTD melalui sekolah serta edukasi kesehatan reproduksi telah berjalan. Akan tetapi, pengawasan konsumsi tablet masih terbatas dan skrining anemia belum dilakukan secara menyeluruh di seluruh sekolah.
Adapun pada aspek output, program telah memberikan dampak positif berupa meningkatnya distribusi TTD, bertambahnya jumlah remaja yang menjalani pemeriksaan hemoglobin, serta meningkatnya pengetahuan tentang anemia. Namun prevalensi anemia masih ditemukan pada sebagian remaja putri sehingga diperlukan upaya yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.
Penelitian ini menawarkan tiga pilihan kebijakan utama, yakni penguatan program pemberian Tablet Tambah Darah, perluasan skrining anemia berkala, dan integrasi program TTD dengan skrining berbasis sekolah melalui kolaborasi puskesmas, UKS, Posyandu Remaja, serta keluarga.
Dari ketiga alternatif tersebut, rekomendasi utama yang disarankan adalah penguatan program pemberian TTD yang terintegrasi dengan skrining anemia berkala berbasis sekolah. Strategi ini mencakup peningkatan cakupan distribusi TTD, pelaksanaan pemeriksaan hemoglobin minimal dua kali dalam setahun, penguatan edukasi gizi dan kesehatan reproduksi, pengembangan sistem monitoring digital, serta peningkatan keterlibatan keluarga dan sekolah.
Melalui implementasi kebijakan yang terintegrasi tersebut, prevalensi anemia pada remaja putri di Kabupaten Banggai diharapkan dapat ditekan secara signifikan. Upaya ini juga menjadi langkah strategis dalam mendukung terciptanya generasi muda yang sehat, produktif, dan berkualitas sebagai modal pembangunan daerah di masa depan








Komentar