gNews.co.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah dinilai tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberikan efek psikologis positif berupa terciptanya rasa setara di kalangan siswa, terlepas dari latar belakang ekonomi mereka.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Nur Sangadji, menanggapi berbagai kritik yang mempertanyakan alasan program ini tidak diberikan secara selektif, misalnya hanya untuk siswa kurang mampu atau jenjang pendidikan tertentu.
“Kalau kita kasih semua, akan ada dampak psikologis yang baik. Karena, tidak ada yang merasa lebih kaya, dan tidak ada yang merasa lebih miskin,” ujar Nur dalam podcast kolaborasi antara ANTARA Sulteng dan Diskominfosantik Sulteng yang dikutip di Palu, Ahad, (3/5/2026).
Ia menambahkan, program ini menunjukkan adanya kesamaan dan kesetaraan saat anak-anak bersama-sama menikmati makanan yang sama dari kemasan yang serupa.
Nur Sangadji juga memaparkan bahwa program makan gratis bagi pelajar bukanlah hal baru dan telah lama sukses di berbagai negara, seperti Brasil sejak tahun 1940-an, Prancis, India, Jepang, hingga China. Bahkan, lanjutnya, pemerintah China menambahkan program tidur siang bagi siswa untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda.
“Serepot itu mereka untuk menyiapkan generasi yang hebat,” ungkapnya.








Komentar