gNews.co.id – Patut diduga ada pihak yang punya akal bulus untuk memaksakan pelepasan lahan sawit PT ANA di Kabupaten Morut.
Upaya pelepasan lahan itu ditengarai untuk kepentingan perusahaan membangun smelter nikel.
Hal itu dikemukakan Koordinator LBH Profresif Sulteng, Abd Razak, SH usai melakukan investigasi di lokasi yang masuk dalam lokasi perkebunan sawit PT ANA.
Menururnya, pelepasan lahan yang hanya dilakukan di dua desa itu karena ada kepentingan dengan perusahaan berbeda, yakni pembangunan smelter nikel.
Sementara, masih ada lima desa lainnya di Kecamatan Petasia Timur yang ada dalam lingkar perkebunan sawit PT ANA, yakni pertama, Desa Tompira, Towara, Malino, Peboa, dan Desa Towara Pantai.
Razak mengemukakan, informasi yang mereka himpun, diduga ada keterlibatan oknum yang punya kedekatan dengan kepala daerah dalam memuluskan pelepasan lahan PT ANA.
“Kami menduga, upaya pelepasan lahan itu untuk memuluskan pembangunan smelter nikel di dua desa tersebut,” ungkap Razak, Kamis (28/9/2023).
Oleh karena itu, tambah Razak, pelepasan lahan hanya dilakukan di dua desa tersebut, yakni Desa Bungintimbe dan Bunta.
Padahal, masih desa-desa yang lain dengan kasus sama, di maja lahan warganya dicaplok oleh PT ANA.
“Dugaan sementara, ada beberapa pejabat yang terlibat dalam pelepasan lahan ini, karena untuk kepentingan yang lebih besar, yakni pembangunan smelter,” katanya.
Warga Morut Demo PT ANA, Menolak Verifikasi Pelepasan Lahan 941 Hektar
Diberitakan sebelumnya, eatusan warga di Kabupaten Morut melakukan demontrasi alias aksi unjuk meminta agar tidak memproses secara administrasi lahan PT ANA untuk mendapatkan HGU.
Aksi unjuk rasa dilakukan di depan kantor Kementrian ATR/BPN Kabupaten Morowali Utara (Morut), Rabu (27/9/2023).
Baca: Warga Morut Demo PT ANA Tolak Verifikasi Pelepasan Lahan 941 Hektar








Komentar