Andika: Hentikan Wacana Pembubaran MBG, Evaluasi Berbasis Dampak Bukan Prosedur

gNews.co.id – Pegiat sosial, Andika angkat bicara menanggapi maraknya usulan dan wacana pembubaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan ramai diperbincangkan di ruang publik.

Dalam keterangan tertulisnya yang diterima awak media pada Jumat (19/6/2026), Andika menegaskan bahwa perdebatan terkait MBG harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis ukuran yang jelas, bukan didorong oleh kekecewaan terhadap praktik penyimpangan yang mungkin terjadi di lapangan.

Andika menekankan pentingnya membedakan secara tegas antara tindak korupsi sebagai perilaku individu dengan Program Makan Bergizi Gratis yang merupakan kebutuhan nasional bagi anak-anak Indonesia.

Menurutnya, kekeliruan logika justru terjadi ketika publik mencampuradukkan kedua hal tersebut.

“Kalau ada korupsi, tindak koruptornya. Kalau ada penyalahgunaan jabatan, proses pejabatnya. Tetapi jangan mencampuradukkan perilaku individu dengan kebutuhan dasar jutaan anak Indonesia untuk memperoleh asupan gizi yang lebih baik,” tegas Andika.

Lebih lanjut, Andika menilai bahwa logika membubarkan sebuah program nasional hanya karena adanya penyimpangan pelaksanaan merupakan pendekatan yang keliru dan kontraproduktif.

Ia mengingatkan bahwa dalam kebijakan publik, persoalan yang muncul seharusnya menjadi pijakan untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat pengawasan, dan meningkatkan akuntabilitas, bukan justru menghapus tujuan mulia dari program itu sendiri.

Perlukah Dibubarkan? Andika Soroti Dasar Evaluasi yang Objektif

Andika secara kritis mempertanyakan dasar evaluasi yang digunakan oleh pihak-pihak yang sudah sampai pada kesimpulan bahwa MBG layak dihentikan.

Ia menegaskan bahwa sebelum menyatakan sebuah program berhasil atau gagal, harus ada indikator yang dapat diukur dan diuji secara objektif.

Untuk itu, Andika mengajukan tiga pertanyaan mendasar yang wajib dijawab dalam evaluasi program MBG:

1. Berapa banyak siswa yang mengalami perbaikan status gizi setelah menerima manfaat program?
2. Berapa banyak kasus stunting yang berhasil dikurangi?
3. Berapa persen tingkat kehadiran siswa di sekolah meningkat setelah program berjalan?

“Tiga pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah porsi makanan yang dibagikan atau besarnya anggaran yang dibelanjakan. Yang harus diukur adalah dampaknya terhadap anak-anak Indonesia,” katanya.

MBG adalah Investasi SDM, Bukan Proyek Prosedural

Andika menyayangkan perhatian publik yang selama ini terlalu tersita pada aspek prosedural dan politik, sementara substansi utama program yakni kualitas gizi anak justru belum menjadi fokus pembahasan.

Baca: Kiat Anggota DPR RI Longki Djanggola di Palu Pastikan Kualitas Program MBG

Komentar