Pada 1788, Negara Saudi Pertama menguasai seluruh dataran tinggi tengah yang dikenal sebagai Najd. Lalu awal abad ke-19, kekuasaan dia meluas ke sebagian besar Semenanjung Arab, termasuk Mekkah dan Madinah.
Popularitas dan kesuksesan penguasa Al-Saud menimbulkan kecurigaan Kesultanan Utsmaniyah atau Dinasti Ottoman, sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah dan Afrika Utara saat itu.
Pada 1818, Utsmaniyah mengirimkan pasukan yang dilengkapi artileri modern ke wilayah barat Arabia. Tentara Ottoman mengepung Diriyah dan berhasil meratakan kota.
Pada 1824, keluarga Al-Saud mendapatkan kembali kendali politik di Arab tengah. Penguasa Saudi Turki bin Abdullah Al-Saud memindahkan ibu kotanya ke Riyadh dan mendirikan Negara Saudi Kedua.
Selama 11 tahun pemerintahan, Turki berhasil merebut kembali sebagian besar tanah yang hilang. Saat ia memperluas kekuasaannya, Turki mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa rakyatnya menikmati hak dan merasa sejahtera.
Di bawah Turki dan putranya, Faisal, Negara Saudi Kedua menikmati masa damai dan kemakmuran. Selain itu, perdagangan dan pertanian berkembang.
Namun, ketenangan itu hancur pada 1865 saat Utsmaniyah memperluas kerajaan Timur Tengahnya ke Semenanjung Arab. Tentara Utsmaniyah merebut sebagian Negara Saudi, yang saat itu diperintah oleh anak Faisal, Abdulrahman.
Dengan dukungan Ottoman, keluarga Al-Rashid dari Hail melakukan upaya bersama untuk menggulingkan Negara Saudi.








Komentar