gNews.co.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat sekitar 40 titik Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutlah) tersebar di sejumlah wilayah.
Kepala BPBD Sulteng, Asbudianto menyatakan pemerintah kabupaten dan kota belum menaikkan status yang terjadi di beberapa daerah karena kebakaran dianggap masih relatif kecil.
Oleh sebab itu, Dia meminta kepada kabupaten maupun kota menaikkan statusnya apabila kebakaran tidak lagi mampu ditangani secara mandiri.
Asbudianto mengatakan, sebagian besar kebakaran masih ditangani oleh pemerintah daerah karena luasannya dinilai relatif kecil. Namun, titik api tersebar di sejumlah wilayah dan terdapat lokasi dengan luasan kebakaran yang mencapai sekitar 70 hektare.
“Saya sudah menyampaikan kepada mereka untuk menaikkan status supaya ini sudah menjadi tanggap darurat. Sehingga dari pemerintah provinsi, Polda, dan pihak Kodam bisa masuk,” tutur Asbudianto saat dikonfirmasi via telepon aplikasi WatsApp, Ahad (23/8/2026).
Menurut dia, pemerintah provinsi belum dapat melakukan intervensi secara langsung apabila pemerintah daerah belum menaikkan status penanganan.
Selama daerah masih menyatakan mampu mengatasi kebakaran, dukungan dari luar wilayah tidak dapat masuk secara serta-merta.
“Kalau mereka naikkan status, kabupaten naikkan status, biasanya tanggap darurat dan ada beberapa kabupaten kami langsung menetapkan juga status darurat. Pemerintah provinsi langsung mengintervensi dengan segala sumber daya yang ada,” katanya.
Asbudianto menyebut titik kebakaran tersebar mulai dari wilayah Kabupaten Parigi Moutong, kemudian Tojo Una-Una (Touna), Banggai, Banggai Kepulauan, Donggala, hingga Kota Palu. Kebakaran disebut telah muncul sejak awal Januari. Ia mengatakan, kondisi di sejumlah wilayah tidak seragam.
Di satu sisi terdapat daerah yang mengalami banjir, sementara wilayah lainnya menghadapi kekeringan dan kebakaran. Kondisi panas ekstrem juga dinilai meningkatkan risiko meluasnya karhutlah.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, pemerintah provinsi telah menggelar apel siaga pada tanggal 11 Agustus. Kegiatan tersebut melibatkan BPBD, Polda, Kodam, Satpol PP, Polisi Kehutanan, dan pemadam kebakaran.
“Kami sudah melakukan imbauan ke masyarakat terkait antisipasi bencana alam kekeringan dan Karhutla. Apel siaga bersama Polda, TNI, Pol PP, Polhut, dan Damkar,” ungkapnya.
Dalam penanganan kebakaran di kawasan yang dalam disebut areal PT CPM Poboya, BPBD mengoordinasikan unsur pemadam kebakaran, TNI, dan Polri. Pemadaman melibatkan Damkar Kota, Damkar Provinsi, serta unit pemadam pada Satpol PP. Api kemudian berhasil dipadamkan.
“Kami hanya mengoordinasi dan menyampaikan. Sesampainya informasi, pemadam langsung berangkat,” ujar Asbudianto.














Komentar