Ekosistem Musik Lokal, PAPPRI Sulteng Gelar Equistar 2026: 12 Finalis Berebut Juara

gNews.co.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Artis Penyanyi dan Pencipta Lagu Republik Indonesia (PAPPRI) Sulawesi Tengah serius membangun ekosistem musik lokal.

Salah satu langkah nyata adalah dengan menyelenggarakan ajang pencarian bakat menyanyi bertajuk Equistar Sulawesi Tengah 2026.

Sebanyak 12 finalis berhasil lolos ke babak Grand Final setelah melalui proses seleksi dan kurasi ketat yang telah berlangsung sejak Mei 2026.

Tak Sekadar Lomba, Tapi Pembinaan Berkelanjutan

Ketua DPD PAPPRI Sulteng, Umariyadi Tangkilisan yang akrab disapa Adi Tangkilisan, mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, banyak talenta musik asal Kota Palu berhasil menjuarai berbagai kompetisi.

Namun, sebagian besar dari mereka tidak memiliki ruang pengembangan berkelanjutan pasca-kemenangan, sehingga sulit menembus industri musik nasional.

“Kondisi inilah yang mendorong Equistar menghadirkan program pembinaan. Kami tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi pada pembentukan ekosistem industri kreatif,” Adi Tangkilisan, Kamis (13/6/2026).

Menurutnya, disiplin dalam industri musik sangat berbeda dengan aktivitas yang dijalankan sekadar sebagai hobi.

“Kami mencoba mengadopsi pola kerja industri yang disesuaikan dengan karakter masyarakat Palu. Mentalitas industri harus dibangun, tetapi tetap memperhatikan karakter lokal yang masih mengedepankan hubungan sosial dan kekeluargaan,” katanya.

Skema Kontrak dan Jaminan Honor bagi Finalis

Program Equistar tidak sekadar mencari pemenang lomba. Para finalis akan mendapatkan pembinaan melalui skema kontrak kerja selama satu tahun.

Dalam kontrak tersebut, panitia berkewajiban mempertemukan finalis dengan pelaku industri musik serta memberikan dukungan pengembangan karier.

Salah satu bentuk dukungan adalah pemberian honorium minimal Rp1 juta per bulan selama masa pembinaan.

Panitia juga menjamin kesempatan tampil bagi peserta:

· Empat bulan pertama: minimal satu penampilan per bulan dengan honor minimal Rp500 ribu.
· Bulan kelima hingga kedua belas: minimal dua penampilan per bulan.

Apabila terdapat pendapatan lebih besar dari kegiatan industri musik, akan diterapkan sistem bagi hasil yang diatur melalui manajemen.

“Manajemen bertugas mengurus pelatihan, jadwal latihan, pengembangan komunitas, branding, hingga peluang kerja bagi para peserta,” ujar Adi.

Sebaliknya, peserta terikat dalam program pembinaan dan diwajibkan mengikuti latihan minimal dua kali seminggu.

Materi yang diberikan meliputi pelatihan vokal, teknik bernyanyi, pembentukan karakter, etika profesi, hukum hak cipta, hak moral karya musik, hingga motivasi kerja profesional.

Tantangan Mental dan Budaya Kerja Profesional

Salah satu tantangan terbesar talenta daerah adalah kesiapan mental. Menjadi penyanyi yang diapresiasi publik tidak cukup mengandalkan vokal, tetapi membutuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan profesionalisme.

“Menjadi idola memiliki banyak syarat. Bukan hanya suara bagus, tetapi kesiapan menjalani kontrak kerja, memenuhi jadwal, dan menjaga komitmen,” tegas Adi.

Melalui program Equistar, ia ingin membangun industri musik dari tingkat lokal secara bertahap.

“Ketika lahir seorang penyanyi, maka terbentuk pula kebutuhan terhadap pencipta lagu, arranger, manajer, penyelenggara pertunjukan, sponsor, hingga pelaku usaha merchandise. Yang ingin kami bangun bukan hanya penyanyinya, tetapi seluruh ekosistem industrinya,” ungkapnya.

Dari 50 Pendaftar, Terpilih 12 Finalis dari Berbagai Daerah

Program Manajer Equistar Sulteng, Yudhi Nugraha, menjelaskan bahwa pada tahap awal terdapat sekitar 50 peserta yang mengirimkan berkas dan video penampilan. Setelah kurasi, 25 orang berhak mengikuti audisi daring.

“Hasil penilaian tersebut menghasilkan 12 finalis dari berbagai daerah di Sulteng, di antaranya Kota Palu, Kabupaten Poso, Donggala, Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong,” ujar Yudhi saat konferensi pers di salah hotel, Jalan R.E. Martadinata, Kota Palu.

Grand Final dijadwalkan berlangsung pada 13 Juni 2026. Namun, gelar juara I, II, III, maupun juara favorit tidak otomatis menjamin peserta mendapatkan kontrak dengan Equistar.

“Penilaian akhir mempertimbangkan hasil pembinaan yang dijalani para finalis selama mengikuti program Equistar Academy,” jelas Yudhi yang juga menjabat Ketua DPC PAPPRI Kabupaten Sigi tersebut.

Equistar Academy: Membentuk Mental dan Sikap Positif

Program pembinaan Equistar Academy dilaksanakan secara daring selama sepekan, berisi materi pengembangan diri meliputi personal branding, teknik dan pengelolaan vokal, motivasi, serta psikologi mental.

Baca: Grup Musik Tipe-X akan Hibur Warga Kota Palu di Panggung Konser BERANI

Komentar

News Feed