Empat Tahun Pascagempa Dahsyat di Wilayah Palu, Sigi, dan Donggala

Expedisi Palu Koro yang dilakukan oleh tim Peneliti dari LIPI dan BPPT dan juga hasil penelitian disertasi Doktor (S3) Mudrid Daryono telah cukup banyak melaporkan temuan aktivitas sesar Palu Koro dan Sejarah siklus gempa dan tsunami di Wilayah PASIGALA sejak tahun 1907 sampai tahun 1968.

Disinyalir bahkan tim ekspedisi Palukoro yang terdiri dari peneliti senior dari LIPI dan BPPT sempat berkunjung ke pemerintah daerah setempat dan mengingatkan akan kemungkinan adanya siklus gempa bermagnitudo dasyat berdasyarkan kajian yang mereka lakukan.

Namun, katanya justru direspon dengan candaan jangan-jangan takut-takuti masyarakat nanti investor enggan masuk ke wilayah ini.

Sekitar tahun 2011 berdasarkan informasi dari seorang sahabat aktivis NGO mengatakan bahwa sebenarnya pernah diadakan simulasi kebencanaan dengan penerapan dokumen tanggap bencana (Contingency Plan), dan simulasi yang pernah dilakukan di beberapa titik lokasi terjadinya tsunami di sekitar Teluk Palu.

Dan dari hasil expedisi teranyer temuan pakar geologi tersebut telah dipublikasikan di Koran Kompas yang terbit tahun 2017 dan sebaiknya temuan itu bisa menjadi peringatan dini atau early warning terkait potensi gempa besar yang akan terjadi di Sulawesi Tengah (PASIGALA) akibat aktivitas Sesar Palu Koro dan siklus 100 tahunan gempa dan tsunami di wilayah ini.

Sejumlah pakar kegempaan dunia merasa heran bisa terjadi tsunami dengan ketinggian mencapai sekitar lebih dari 10 meter dan telah menewaskan banyak orang yang pada saat itu lagi berada di wilayah pesisir pantai di sekitar Teluk Palu dan wilayah Kabupaten Donggala.

Menurut analisa pakar geologi dan tsunami, sesar geser atau sesar horisontal kecil kemungkinan menimbulkan tsunami.

Baca: Prediksi Sebaran Hujan dan Tinggi Gelombang 7 Hari ke Depan, Warga Sulteng Tetap Waspada

Komentar