gNews.co.id – Wakil Ketua Umum Perguruan Pencak Silat (PPS) Satria Muda Indonesia (SMI) Pusat, Abdul Karim Aljufri resmi membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) dan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Nasional di salah satu di Kota Palu, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga 15 Februari ini diikuti oleh 61 peserta dari Komda Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Komda Sulawesi Barat (Sulbar).
Dalam sambutannya, Abdul Karim yang akrab disapa AKA menegaskan bahwa ToT tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis bela diri, tetapi juga menjadi momentum strategis dalam pembentukan karakter dan penguatan jati diri pesilat. Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah penyamaan persepsi terhadap jurus baku perguruan.
“Tidak bisa kita pungkiri, masing-masing punya pemahaman sendiri terhadap gerakan jurus. Tapi jurus baku itu sudah dirancang oleh para sesepuh dan dewan guru berdasarkan filosofi perguruan. Harus seragam dan tidak boleh diubah sembarangan,” tegas AKA.
Ia menekankan bahwa perubahan terhadap jurus baku merupakan bentuk pelecehan terhadap warisan perguruan. “Kalau ingin punya gerakan sendiri, silakan buat jurus baru. Jangan mengubah yang sudah dibakukan,” tambahnya.
Mantan juara dunia pencak silat itu juga menyoroti kebiasaan sebagian pelatih yang tidak mengacu pada buku pedoman resmi atau “buku merah” saat melatih. Menurutnya, konsistensi terhadap kurikulum resmi menjadi kunci utama dalam mencetak atlet berprestasi.
“Saya dulu bisa menjadi juara karena dilatih berdasarkan buku merah. Jangan sampai pelatih sekarang mengajarkan di luar koridor yang sudah ditetapkan,” ungkapnya.








Komentar