gNews.co.id – Argentina dan Inggris akan bertemu di semifinal Piala Dunia 2026, memperpanjang rivalitas klasik yang tak pernah lepas dari bayang-bayang Perang Malvinas (Falkland War) 1982.
Dilansir dari berbagai sumber, konflik bersenjata selama 74 hari itu memperebutkan kedaulatan Kepulauan Malvinas yang juga mencakup Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan di Samudra Atlantik Selatan.
Hingga kini, sejarah perang tersebut kerap dihadirkan dalam setiap interaksi kedua negara, termasuk di pentas sepak bola: Piala Dunia 1986, 1998, dan kini 2026.
Turnamen edisi kali ini berlangsung di tengah situasi global yang memanas, dengan ketegangan AS-Israel melawan Iran serta konflik Rusia-Ukraina yang kembali eskalatif.
Jalan Menuju Semifinal
Argentina lolos ke babak empat besar setelah menang dramatis 3-1 atas Swiss. Lionel Messi dan rekan-rekannya akan menantang Inggris, yang sebelumnya menyingkirkan tim kuda hitam Norwegia dengan skor ketat 2-1.
Latar Belakang Perang Malvinas
Secara internasional, Kepulauan Malvinas lebih dikenal sebagai Kepulauan Falkland demi netralitas. Namun, Argentina dan negara-negara berbahasa Spanyol tetap menggunakan sebutan Malvinas, karena nama Falkland dianggap identik dengan Inggris.
Kepulauan ini terletak sekitar 480 kilometer dari pantai Argentina. Meski demikian, sejak 1833 pulau tersebut dikuasai dan diperintah oleh Inggris sebagai bagian dari ekspansi imperialisme Eropa kala itu.
Argentina menyatakan bahwa secara historis dan geografis Kepulauan Malvinas beserta dependensinya berada di bawah kedaulatan mereka sejak kemerdekaan dari Spanyol pada 1816. Dari sinilah akar sengketa bermula.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong kedua negara berunding melalui resolusi pada 1965 dan 1973. Negosiasi sempat berlangsung, namun selalu gagal mencapai kesepakatan signifikan, hingga pecahlah perang pada 1982.
Klaim Masing-Masing Pihak
· Argentina menilai Inggris sebagai pemicu konflik, karena dianggap merebut pulau secara paksa pada 1833 dan mengusir penduduk Argentina. Aksi militer 1982 disebut sebagai upaya “merebut kembali” tanah air yang dijajah.
· Inggris menegaskan mereka telah menguasai dan mengadministrasi pulau secara damai sejak 1833, serta menganggap tindakan Argentina 1982 sebagai agresi ilegal tanpa provokasi terhadap wilayah kedaulatan dan warga negaranya.
Kronologi Ringkas Perang Malvinas
Berdasarkan situs resmi Office of the Historian (U.S. Department of State), di bawah rezim junta militer Jenderal Leopoldo Galtieri, Argentina mengirim pasukan komando ke Kepulauan Malvinas pada 2 April 1982.
Pasukan berhasil merebut ibu kota Stanley dan mengganti bendera Inggris dengan bendera Argentina.
Baca: Kualitas Matador Lebih Unggul dari Les Bleus? Berikut Kata Deschamps dan Pengamat Bola














Komentar