gNews.co.id,- Tidak semua anak dilahirkan dengan fasilitas yang lengkap. Ada yang harus belajar di ruang sederhana, ada yang harus berbagi waktu dengan kesibukan orang tua mencari nafkah, dan ada pula yang hanya memiliki sebuah telepon genggam sebagai jendela untuk mengejar cita-cita.
Namun, bagi Humairah, siswi SD Negeri 1 Nambo, Kecamatan Nambo, Kabupaten Banggai, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah. Justru dari kehidupan yang sederhana itu tumbuh mimpi besar yang akhirnya mengantarkannya meraih prestasi membanggakan.
Humairah adalah putri pertama dari pasangan Suratno Mahmud dan Minallah. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh lepas dengan penghasilan yang tidak menentu. Meski hidup dalam keterbatasan, mereka tidak pernah berhenti berjuang demi pendidikan anak-anaknya.
Dengan penuh pengorbanan, kedua orang tuanya membelikan sebuah telepon genggam sederhana agar Humairah dapat belajar.
Dari layar kecil itulah ia mengenal Bahasa Inggris. Tanpa mengikuti kursus berbayar, Humairah belajar secara otodidak melalui berbagai materi dan video pembelajaran.
Ia menghafal kosakata, melatih pelafalan, hingga berulang kali berlatih pidato dengan penuh kesabaran.
Setiap malam menjadi saksi perjuangannya. Saat anak-anak lain mungkin telah terlelap, Humairah masih terus mengulang kalimat demi kalimat, berharap suatu hari nanti kerja kerasnya bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Harapan itu akhirnya menjadi kenyataan. Pada Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat SD/MI se-Kabupaten Banggai yang digelar Rabu, 5 Agustus 2026, di SMP Negeri Mirqan, Luwuk Selatan, melalui program CSR perusahaan LNG, Humairah berhasil meraih Juara II.
Prestasi itu bukan hanya mengharumkan nama SD Negeri 1 Nambo dan Kecamatan Nambo, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya yang selama ini berjuang dalam diam demi masa depan sang buah hati.
Di sekolah, Humairah dikenal sebagai sosok yang santun, rajin, disiplin, dan selalu bersemangat belajar. Guru-gurunya melihat tekad yang luar biasa dalam diri siswi tersebut. Dukungan kepala sekolah, wali kelas, para guru, dan pelatih menjadi kekuatan yang semakin mengasah bakatnya hingga mampu bersaing di tingkat kabupaten.
Di balik medali yang kini menghiasi dadanya, ada tangan-tangan kasar seorang ayah yang tak pernah lelah bekerja. Ada doa seorang ibu yang setiap hari memohon agar anaknya kelak memiliki masa depan yang lebih baik.
Dan ada air mata haru yang tak mampu disembunyikan ketika nama Humairah diumumkan sebagai juara.
Kisah Humairah mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemewahan. Terkadang, mimpi terbesar justru tumbuh dari rumah yang paling sederhana.
Selama ada kemauan untuk belajar, doa orang tua yang tulus, serta semangat yang tak pernah padam, tidak ada keterbatasan yang mampu menghentikan langkah menuju masa depan.
Semoga perjalanan Humairah menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk terus belajar, berani bermimpi, dan tidak pernah malu dengan keadaan. Sebab kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan menuju kehidupan yang lebih baik.(DQ74).














Komentar