gNews.co.id – Anggota Komisi II DPR RI, Longki Djanggola, menggelar reses di Pusat Evakuasi Masyarakat (PEM) Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Senin (27/7/2026).
Dalam kesempatan itu, dua persoalan utama yang paling banyak dikeluhkan warga adalah krisis air bersih dan belum tuntasnya sertifikat hunian tetap (huntap).
Air Bersih dan Sertifikat Huntap Jadi Prioritas
Kepala Desa Bangga, Abrar Ganasatu, mengungkapkan bahwa warga huntap masih kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Meskipun sumur dalam telah dibangun sekitar enam bulan terakhir, debit air yang dihasilkan dinilai belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Air bersih Huntap Bangga masih kurang. Banyak warga harus turun ke bawah mengambil air dari Sungai Miu di Dusun III. Sumur dalam sudah dikerjakan, tapi airnya belum mencukupi,” tutur Abrar.
Selain air, Abrar juga menyoroti masih adanya warga yang belum menerima sertifikat tanah. Pemerintah desa telah mengajukan permohonan penyelesaian kepada Pemerintah Kabupaten Sigi, namun prosesnya belum tuntas.
Ia juga menambahkan bahwa fasilitas olahraga di kawasan huntap masih belum layak karena terdapat paku-paku beton yang tertancap di lapangan.
Senada dengan itu, Anggota DPRD Sigi Fraksi Gerindra, Fadlin Yabi, menyebutkan bahwa sebanyak 99 kepala keluarga (KK) penghuni huntap belum memperoleh sertifikat. Hal ini disebabkan proses penyerahan lahan dari pemerintah daerah kepada pemerintah desa yang belum rampung.
“Masalah ini sudah kami sampaikan ke ATR/BPN. Kami juga menyampaikan langsung kepada Pak Longki agar bisa diperjuangkan di tingkat pusat,” ujar Fadlin.
Longki Datang Serap Curhat dan Sampaikan Maaf
Menanggapi beragam aspirasi tersebut, Longki menegaskan bahwa kehadirannya di Desa Bangga bertujuan untuk menyerap langsung keluhan masyarakat.
“Saya datang ke sini untuk mendengar aspirasi, curhatan, dan keluhan masyarakat. Yang bisa saya tangani langsung akan saya upayakan, sedangkan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah akan saya sampaikan kepada Bupati Sigi, Rizal Intje Nai,” ujar Longki.
Ketua DPD Partai Gerindra yang juga mantan Gubernur Sulteng dua periode itu menyampaikan permohonan maaf karena datang sedikit terlambat.
Ia mengaku sebelumnya singgah untuk berziarah ke makam leluhurnya, Madika Bangga atau Pue Bongo.
“Tadi saya singgah berziarah ke makam Pue Bongo, kakek saya yang dimakamkan di sini,” katanya.
Sorotan Pendidikan, Narkoba, dan Sarana Sekolah
Dalam dialog tersebut, perwakilan Karang Taruna, Asmaul Hasanatan, meminta perhatian serius terhadap pembinaan generasi muda.
Ia menyoroti masih adanya anak SD yang belum lancar membaca, ancaman penyalahgunaan narkotika, serta pentingnya pendidikan karakter melalui seni, olahraga, dan pelatihan.
Sementara itu, Ketua PKK Desa Bangga yang juga menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 21 Sigi, Fadliah, mengeluhkan keterbatasan air bersih dan fasilitas belajar.
Jumlah siswa di sekolahnya meningkat drastis dari 37 menjadi 91 orang, namun mereka masih kekurangan mebel sehingga satu kelas terpaksa belajar secara lesehan.
“Kami hanya mengandalkan satu tandon air seharga Rp50 ribu yang habis dalam dua hari. Usulan ke pemerintah kabupaten sudah disampaikan, tapi belum terealisasi,” tuturnya.
Longki pun meminta pihak sekolah segera mengajukan proposal. “Buat permintaan resmi, nanti tenaga ahli kami akan menyampaikan ke Pemkab Sigi melalui bagian perlengkapan,” ujarnya.
Infrastruktur Masjid, Pemandian Jenazah, hingga Lapangan Bola
Imam Huntap Dusun I RT 5, Aruji, meminta bantuan sekitar 2.500 buah nako dan 3.000 batako untuk memperbaiki masjid yang bocor saat hujan.
“Kalau hujan, air masuk semua ke dalam masjid,” katanya.
Longki pun merespons dengan meminta pengurus masjid segera membuat proposal.
Ketua BPD Bangga, Moh. Ikbal turut meminta bantuan pembangunan tempat pemandian jenazah serta peningkatan jalan desa yang telah diusulkan sejak 2018. Longki pun menyatakan akan segera membantu.












Komentar