Sejumlah warga telah menyampaikan observasi terkait aspek teknis pembangunan, termasuk sistem penangkapan air dan material pipa yang digunakan, serta kondisi distribusi air yang saat ini berjalan.
Warga juga menjelaskan bahwa pengerjaan penangkapan air dilakukan secara sederhana tanpa memperhatikan aspek teknis.
“Tidak ada pelapisan dinding, tidak ada pintu masuk atau sistem pembuangan. Dasarnya belum di-cor, bronjong pun tidak ada. Begitu hujan besar, airnya habis terbawa semua,” ujar warga.
Beberapa rumah tangga dilaporkan telah mendapatkan sambungan, meskipun distribusi air masih memerlukan pengaturan lebih lanjut untuk memastikan pemerataan pasokan ke seluruh area layanan.
Adanya laporan mengenai tantangan seperti kebutuhan perbaikan pada jaringan pipa yang ada menunjukkan dinamika dalam implementasi proyek infrastruktur skala besar.
Warga juga mempertanyakan transparansi proyek. Tidak terdapat papan informasi proyek di lokasi, sehingga publik tidak mengetahui siapa pelaksana, berapa besar anggaran, dan berapa lama durasi pengerjaannya.
“Papan proyek pun tidak ada, jadi masyarakat tidak bisa mengawasi,” imbuh warga lainnya.
Kondisi distribusi air pun jauh dari harapan. Terdapat dua jalur pipa paralel, namun hanya sekitar 10 rumah yang mendapatkan sambungan resmi. Warga lainnya terpaksa menyambung sendiri secara mandiri.
Bahkan, sistem pembagian air harus dilakukan secara bergiliran.
“Kalau tidak dibagi giliran, bagian atas dapat, bagian bawah tidak kebagian,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Ia juga menyoroti belum adanya serah terima resmi dari pelaksana proyek kepada masyarakat atau PDAM, sehingga pemeliharaan jaringan menjadi tidak jelas.
“Kami belum tahu apakah nanti dikelola oleh masyarakat langsung atau oleh PDAM. Semua belum jelas,” katanya.
Kebocoran pipa juga menjadi masalah lain yang dikeluhkan warga.
“Sudah banyak yang bocor. Kami terpaksa tutup dan perbaiki sendiri secara swadaya,” ucap seorang warga.
Proyek tahap kedua yang disebut menghabiskan anggaran hingga Rp2,8 miliar juga tidak menunjukkan hasil yang sesuai ekspektasi. Warga menyebut penangkapan air tetap menggunakan jalur lama dan tidak membangun sistem baru.
“Kita cuma dapat saluran dari pipa lama. Seharusnya bikin penangkapan sendiri, jangan gabung,” kata warga dengan nada kecewa.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kontraktor maupun pemerintah kelurahan terkait keluhan yang dilontarkan warga.
Baca: Proyek Galian Pipa PT PP Merusak Fasilitas Umum dan Fondasi Pagar Warga











Komentar