gNews.co.id,- Angka Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Gorontalo masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sektor kesehatan. Kondisi tersebut mendorong perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan kesehatan maternal guna merumuskan strategi yang efektif dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu.
Hal itu terungkap dalam Policy Brief yang disusun Rita Sugiarto, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk Tahun 2026, berjudul “Evaluasi Sistem Pelayanan Kesehatan Maternal Melalui Pendekatan Input, Proses, Output Sebagai Dasar Penyusunan Strategi Percepatan Penurunan Kematian Ibu di Provinsi Gorontalo”.
Dalam kajiannya disebutkan bahwa meskipun berbagai program kesehatan ibu telah dijalankan, AKI di Gorontalo masih menunjukkan tren yang memerlukan perhatian serius.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo mencatat AKI tahun 2022 sebesar 244 per 100.000 kelahiran hidup, turun menjadi 139 pada 2023, namun kembali meningkat menjadi 147 pada 2024 dan 189 pada 2025. Pada awal tahun 2026, telah tercatat 72 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.
Penelitian ini menggunakan pendekatan Input, Proses, dan Output (IPO) yang dipadukan dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan program penurunan AKI.
Pada aspek input, Gorontalo dinilai telah memiliki tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta dukungan kebijakan yang cukup memadai.
Namun, masih ditemukan kendala berupa distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, keterbatasan sarana rujukan, dan perlunya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
Sementara itu, pada aspek proses, pelayanan antenatal care (ANC), deteksi dini risiko kehamilan, hingga sistem rujukan maternal telah berjalan. Akan tetapi, masih ditemukan keterlambatan dalam deteksi risiko tinggi, pengambilan keputusan rujukan, serta koordinasi antar fasilitas kesehatan yang belum optimal.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko komplikasi dan kematian ibu.
Adapun pada aspek output, terjadi peningkatan cakupan pelayanan kesehatan maternal dan deteksi dini kehamilan risiko tinggi.
Namun, tingginya angka kematian ibu menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dan efektivitas sistem kesehatan maternal masih perlu diperkuat secara merata di seluruh wilayah.
Berdasarkan hasil analisis, terdapat tiga alternatif kebijakan yang dapat diterapkan, yakni peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penguatan sistem rujukan maternal, serta pemanfaatan teknologi digital kesehatan untuk pemantauan ibu hamil dan sistem rujukan berbasis elektronik.
Dari ketiga alternatif tersebut, Rita Sugiarto merekomendasikan penguatan sistem rujukan maternal dan pelayanan kegawatdaruratan maternal sebagai prioritas utama, yang didukung oleh peningkatan kompetensi tenaga kesehatan serta pemanfaatan teknologi digital.
Strategi tersebut dinilai paling efektif dalam mengurangi keterlambatan penanganan komplikasi kehamilan, mempercepat akses pelayanan kesehatan, dan menurunkan angka kematian ibu di Provinsi Gorontalo secara berkelanjutan.
Selain itu, langkah tersebut juga diharapkan mampu mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, yakni menurunkan AKI menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.(DQ74)














Komentar