Pemilihan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai lokasi memiliki makna khusus. Gubernur menjelaskan, selain pertimbangan efisiensi anggaran, rumah ibadah dipandang sebagai tempat yang penuh berkah dan dapat menyatukan semua peserta dalam kesederajatan.
“Kenapa saya pilih masjid? Karena selain ada efisiensi, masjid bisa lebih berkah. Di sini juga kita menyatu, tanpa sekat jabatan. Semua sama di hadapan Sang Pencipta,” jelas Anwar Hafid.
Respons Positif dari Peserta
Inovasi ini mendapat respons positif dari para peserta. Muchsin Husain Pakaya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Tengah, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan dan mendalam.
“Di sini tidak ada yang membawa jabatan, semua sama. Suasana hening dan khusyuk di masjid membantu kami melakukan introspeksi dan memperkuat komitmen untuk mengabdi dengan lebih baik,” ungkap Muchsin.
Pendekatan Gubernur Anwar Hafid ini dipandang sebagai terobosan yang menggabungkan nilai-nilai religius, kearifan lokal, dan prinsip tata kelola pemerintahan modern dalam satu kesatuan yang utuh.
Retret ini semakin menegaskan identitas kepemimpinan Anwar Hafid sebagai figur yang konsisten membangun Sulteng dengan pendekatan humanis, religius, dan berintegritas.
Langkah ini juga menempatkannya sebagai pemimpin visioner yang berani keluar dari pola konvensional untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, melayani, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual yang kuat.














Komentar