Tulisan ini bukan untuk menolak kebaikan, apalagi meremehkan niat luhur. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk menjaga kemurnian niat tersebut.
Sebab sebuah program akan jauh lebih kuat jika dibangun di atas partisipasi sukarela, bukan kewajiban terselubung.
Para pemimpin memiliki tanggung jawab bukan hanya untuk menciptakan program, tetapi juga memastikan bahwa pelaksanaannya tidak melukai mereka yang berada di dalam sistem. Mendengar suara yang tidak diucapkan adalah bagian dari kepemimpinan yang bijak.
“Subuh Berkah” seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan kegelisahan. Menjadi ruang berbagi, bukan ruang menanggung beban.
Jika tidak, ia berisiko berubah menjadi bom waktu sunyi, tapi pasti. Dan ketika bom itu meledak, yang runtuh bukan hanya program, tetapi juga kepercayaan.
Penulis adalah mantan aktivis dan pegiat sosial
Baca: KATALISATOR PERCEPATAN: Tentang Informasi dan Kapasitas Pembangunan








Komentar