Walhi Sulteng Dorong Kemandirian Pangan Empat Desa di Donggala

banner 468x60

SULTENG, gNews.co.id – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sulawesi Tengah, belum lama ini menge

mbangkan kemandirian pangan dengan menggelar kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas tentang pertanian berkelanjutan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan empat Desa Tinauka, Towiora, Panca Mukti, dan Bonemarawa, dengan menyasar 25 orang perempuan pada setiap desa.

Di mana dilaksanakan pada dua tempat, Desa Tinuaka dengan menyatukan peserta dari Desa Towiora begitupun Desa Panca Mukti yang menyatukan peserta dari Desa Bonemarawa.

Dilansir dari Walhi Sulteng, Sabtu (27/8/2022), konsep Homegarden (Pertanian pekarang) menjadi pilihan untuk di kembangkan dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan kecil yang ada serta dapat di tanami tanaman pangan, juga limbah rumah tangga yang bisa diolah menjadi pupuk organik.

Kondisi Kecamatan Rio Pakava secara umum, dimana empat desa tersebut terdapat hampir seluruh lahan masyarakat hanya diperuntukan untuk tanaman monokultur seperti sawit, di sisi lain dominasi modal seperti HGU PT Mamuang dan PT LTT anak perusahaan Astra Agro Lestari (AAL)  yang begitu luas. sehingga hampir tidak ada aktivitas masyarakat bertani untuk memanam tanaman pangan seperti sayur – sayuran.

Hal ini mengakibatkan kebutuhan dasar seperti pangan sebagian besar di pasok dari luar daerah dan dijual dengan harga yang mahal contohnya saja sayur kangkung Rp 5000 per satu ikat dan bahkan harga cabe Rp 10.000.

Tujuan dilakukanya kegiatan pelatihan pertanian berkelanjutan mengangkat tema ‘Mewujudkan Kemandirian Pangan dan Perbaikan Tata Kelola Ekologis’.

Selain memberikan pengetahuan teknis tentang tata cara menanam tanaman holtikultura, pembuatan pupuk organik, dan menata lahan, juga memberikan edukasi tentang pentingnya untuk memastikan ketersediaan tanaman pangan yang ada di lingkungan masyarakat, agar membantu mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga. Selain untuk kebutuhan konsumsi, kedepanya bisa menjadi sumber mata pencaharian tambahan.

Hal tersebut juga disampaikan salah seorang warga bernama Tano (46) dari Desa Tinauka,

Kata dia, masalah yang sering dialami oleh Petani adalah naik turunya harga sawit. Bahkan harga pernah turun mencapai Rp 500 per satu kilogram.

Dalam kondisi tersebut masyarakat cukup sulit menghadapi kondisi ekonomi, sehingga harus menekan pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan konsumsi.

<span;>”Apalagi kita hanya berharap sumber utama mata pencaharian dari hasil sawit sajatutur Toni

Ia mengatakan, melihat kondisi yang dialami oleh petani terkait kebutuhan pangannya, maka sangat penting untuk mendorong kemandirian pangan secara bertahap, sehingga kesadaran akan ancaman kerentanan terhadap pangan perlahan bisa mudah di atasi,

Kegiatan pelatihan tersebut di lakukan selama dua hari, kegiatan ini juga dibarengi dengan diskusi materi dan praktek, menggandeng BPP Rio Lalundu sebagai fasilitator teknis. Dari hasil kegiatan pelatihan, terdapat rencana tindak lanjut perempuan yang di libatkan dalam kegiatan di integrasikan ke dalam Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga aktivitas yang dilakukan kedepanya dapat terintegrasi dengan kebijakan pemerintah desa maupun kabupaten.

Desa Tinauka ada 5 Kelompok Wanita Tani terbentuk paska pelatihan, yang berada di masing – masing dusun dan pemerintah desa berkomitmen akan mendukung melalui Dana Desa sebesar 20 persen dalam program ketahanan pangan. BB

Komentar