Ia juga menambahkan bahwa industri smelter di Morowali dan Morut hanya melibatkan sekitar 20 persen tenaga kerja lokal, sementara sisanya berasal dari luar daerah.
“Ini harusnya menjadi fokus kita untuk memberdayakan tenaga kerja lokal dan memberi kesempatan kepada masyarakat kita,” katanya.
Dalam dialog tersebut, Anwar Hafid mengungkapkan pengalamannya saat menjadi Bupati Morowali.
Di mana Dia berjuang untuk mendatangkan investor dari China dan memastikan masyarakat lokal dapat menikmati manfaat dari keberadaan industri di daerah tersebut.
Menanggapi pernyataan Anwar, Sudirman Suhdi, perwakilan KAHMI, menyatakan bahwa kehadiran perusahaan tambang seharusnya menjadi peluang bagi peningkatan ekonomi lokal.
Namun, ia mengkritik minimnya keterlibatan perusahaan lokal dalam rantai pasok kebutuhan industri smelter.
“Perusahaan lokal seharusnya diberikan kesempatan untuk memasok kebutuhan di PT IMIP, termasuk sembilan bahan pokok. Sayangnya, peluang ini lebih banyak diambil oleh pihak luar,” katanya.
Pada akhir diskusi, Ketua PB HMI MPO, Jabir M. Yamin, menegaskan bahwa Sulawesi Tengah membutuhkan pemimpin yang memiliki kapabilitas dalam mengelola SDA dengan bijaksana, memastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas, bukan hanya segelintir pihak.
“Kita butuh pemimpin yang tidak hanya fokus pada satu sektor, seperti tambang, tetapi juga mengembangkan sektor lain seperti pertanian dan perikanan yang juga potensial,” tegas Jabir.
Baca: Pasangan Anwar-Reny di Kabupaten Banggai yang Dimeriahkan Wali Band dan Sejumlah Artis Ternama








Komentar