Potret Menarik dari Aktivis Reformasi ke Pasar Durian Dunia

Ada dua potret menarik tentang Hengky Idrus. Potret pertama: seorang mahasiswa berdiri di atas truk, meneriakkan orasi reformasi di tengah hujan peluru dan amarah rakyat.

Oleh : Salihudin

Potret kedua: seorang pria paruh baya berdiri di antara pohon-pohon durian, tersenyum puas saat kontainer berisi buah berduri itu bersiap melintasi lautan menuju Tiongkok.

Dua potret itu adalah orang yang sama. Dan itulah yang membuat kisahnya penting bukan sekadar sebagai cerita inspiratif, tetapi sebagai pelajaran tentang bagaimana semangat perubahan bisa bereinkarnasi.

Hengky Idrus bukan nama asing bagi mereka yang mengingat gelora 1998 di Sulawesi Tengah.

Lulusan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Ketua BEM Untad, pengurus HMI Cabang Palu lengkap sudah “sertifikat” kepeloporan seorang aktivis mahasiswa.

Hengky juga dikenal sebagai mantan Ketua KNPI Parigi Moutong dan saat ini Ketua Presidium Aktifis 98 (PENA 98) Sulteng.

Ia bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan salah satu penggerak massa utama pada momen-momen paling kritis reformasi.

Tapi sejarah tidak berhenti di tahun 1998. Dan aktivis sejati tahu bahwa perjuangan tidak selalu berwujud turun ke jalan.

Kini, Hengky Idrus mengurus durian. Bukan sembarang durian. Bersama istrinya yang juga menjabat Ketua Kadin Parigi Moutong, ia membuktikan bahwa komoditas yang kerap dianggap “kampungan” ini bisa menjadi lokomotif ekonomi global.

Dua kali ekspor ke Tiongkok, dengan volume 459 ton pada ekspor kedua dan nilai lebih dari Rp42 miliar itu bukan keberhasilan kecil.

Yang lebih substansial dari angka-angka itu adalah cara kerjanya. Hengky dan istrinya tidak bekerja sendiri.

Mereka membina petani, menghimpun mereka dalam Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (APDURIN) Kabupaten Parigi Moutong.

Petani tidak sekadar diajak menanam, tetapi diberi penguatan kelembagaan, dorongan hilirisasi, dan akses menuju ekosistem ekspor yang berkelanjutan.

Di sinilah esensi “aktivisme matang” itu tampak.

Dulu, aktivisme sering terjebak dalam dikotomi: berkuasa atau jadi oposisi. Jika tidak masuk parlemen atau birokrasi, maka “dikalahkan” oleh sistem.

Tapi Hengky memilih jalur ketiga: menggerakkan ekonomi rakyat dari akarnya. Bukan melawan kapital dengan slogan, tetapi membangun kapital tani dengan sistem.

Bukan pula sekadar menjadi “pengusaha yang baik hati.” Ini tentang mengubah struktur.

Karena ketika petani lokal memiliki kelembagaan yang kuat, akses pasar global, dan rantai nilai yang terorganisasi, maka mereka tidak lagi menjadi pecatur dalam papan catur orang lain. Mereka menjadi pemain.

Baca: KATALISATOR PERCEPATAN: Tentang Informasi dan Kapasitas Pembangunan

Komentar