Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa produk ini sudah layak untuk memasuki pasar Eropa, khususnya Belanda.
“Bawang Palu ini udah layak masuk pasar Eropa, khususnya pasar Belanda. Apalagi di Belanda ada 600 restoran Indonesia, belum lagi restoran Thailand dan Vietnam yang juga menggunakan bawang goreng. Saya akan bantu promosi ke beberapa restoran di Belanda,” katanya.
Syafei juga memberikan saran agar produk ini dilengkapi dengan storytelling atau narasi yang kuat mengenai keunikan dan asal-usulnya, yang dapat meningkatkan daya tarik di mata konsumen internasional.
Menanggapi antusiasme dan tawaran kerja sama tersebut, Ridha Saleh, yang merupakan anggota Tim Ahli Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, menyambut baik langkah ini.
“Makasih, Mas Syafei. Saya akan coba komunikasikan niat baik ini ke Penda (Pemerintah Daerah) Pemprov. Mungkin perlu ada komunikasi lanjut dengan Pemda Sulteng untuk menindaklanjuti secara kongkrit. Sebab, ini kalau bisa berjalan baik, akan membantu petani bawang di Sulteng,” tegas Ridha.
Kolaborasi yang terjalin ini diharapkan dapat membuka pintu ekspor yang lebih lebar, tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi tetapi juga memperkenalkan salah satu produk unggulan Sulawesi Tengah ke kancah global.
Langkah ini sejalan dengan upaya hilirisasi produk pertanian lokal untuk kesejahteraan petani dan perekonomian daerah.
Baca: Pemkab Banggai Gelar Pasar Murah Strategi Jaga Stabilitas Harga dan Daya Beli Masyarakat








Komentar