gNews.co.id – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia dinilai harus memasuki tahap baru.
Setelah berhasil menarik investasi besar dan membangun kawasan industri, agenda berikutnya adalah membangun ekosistem rantai pasok industri dalam daerah agar manfaat industrialisasi benar-benar dirasakan masyarakat Sulteng.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sulteng pada tahun 2025 tumbuh 8,47 persen dengan sektor Industri Pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan melalui laju 14,12 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku telah mencapai sekitar Rp415 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa fondasi industrialisasi telah terbentuk.
Namun menurut Andika, pertumbuhan tersebut belum menghasilkan multiplier effect atau efek berganda yang optimal karena Sulteng belum membangun ekosistem turunan dari rantai pasok industrinya.
“Kita berhasil membangun industri, tetapi belum membangun industri pendukungnya. Akibatnya, manfaat ekonomi yang seharusnya dinikmati masyarakat Sulawesi Tengah masih banyak mengalir ke luar daerah,” tutur Andika dalam siaran pers, Ahad (2/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa setiap kawasan industri memiliki skala rantai pasok yang sangat besar.
Sebuah kawasan industri membutuhkan ribuan jenis barang dan jasa setiap hari untuk menjaga operasionalnya, mulai dari Alat Pelindung Diri (APD), baut dan mur, pipa, valve, flange, bearing, conveyor, pompa industri, motor listrik, panel listrik, transformator, kabel, pelumas, bahan kimia industri, gas industri, tangki penyimpanan, serta peralatan keselamatan.
Kemudian instrumen kontrol, perangkat otomasi, jasa fabrikasi baja, pengelasan, machining, perawatan mesin, kalibrasi, laboratorium pengujian, alat berat, kendaraan operasional, logistik, pergudangan, jasa kebersihan industri, katering, pengelolaan limbah, teknologi informasi, keamanan, hingga jasa konsultansi teknik.
Selain kebutuhan operasional, kawasan industri juga membutuhkan pasokan dari sektor konstruksi, manufaktur, perdagangan, transportasi, perbankan, asuransi, pendidikan vokasi, penelitian, dan pengembangan teknologi. Seluruh aktivitas tersebut membentuk mata rantai ekonomi yang nilainya dapat mencapai miliaran hingga triliunan rupiah setiap tahun.
“Persoalannya, sebagian besar kebutuhan itu masih dipenuhi dari luar Sulawesi Tengah. Akibatnya, belanja industri lebih banyak menggerakkan ekonomi daerah lain dibandingkan ekonomi kita sendiri,” katanya.
Menurut Andika, kondisi tersebut tidak akan berubah apabila pemerintah tidak menyusun Peta Jalan Pengembangan Rantai Pasok Industri Sulteng.
Melalui peta jalan tersebut, pemerintah harus memetakan seluruh kebutuhan industri, mengidentifikasi komponen yang paling realistis diproduksi di daerah ini, membangun kawasan industri pendukung, memperkuat pembiayaan, memberikan insentif investasi, mempercepat sertifikasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun kemitraan yang kuat antara industri besar dengan UMKM, koperasi, BUMD, dan perusahaan lokal.
“Dari ribuan komponen yang dibutuhkan industri, masa Sulawesi Tengah tidak mampu memproduksi dua atau tiga komponen sendiri? Kita tidak perlu langsung membuat semuanya. Mulailah dari komponen yang sederhana tetapi memiliki permintaan yang pasti. Dari situlah industri lokal akan tumbuh,” jelas Andika.
Ia juga menilai sudah saatnya pemerintah daerah mendorong lahirnya kelompok investor industri dari kalangan pengusaha daerah.
“Sudah saatnya para konglomerat lokal didorong dan difasilitasi untuk belajar berinvestasi di sektor manufaktur dan industri pendukung. Pemerintah harus membuka akses pembiayaan, transfer teknologi, pendampingan bisnis, hingga mempertemukan pengusaha lokal dengan mitra nasional maupun internasional,” tandasnya.
Baca: Gercep Anwar Hafid ‘Sulap’ Sulteng Menuju Raksasa Ekonomi Nasional?














Komentar