Sementara sumber tim media yang dikonfirmasi bahwa aktivitas PETI di Lobu Moutong masih berlangsung, hanya karena masifnya pemberitaan aktivitas PETI sementara waktu sedang berhenti.
“Ada tim aparat yang turun beberapa hari lalu, tapi cuma kasih tahu kepada penambang supaya alat berat disembunyikan. Setelah aman-aman lanjut lagi,” ungkap sumber, Sabtu (7/9/2024).
Dia mengatakan alat berat jenis excavator yang beroperasi di Lobu Mautong diperkirakan mencapai 20 unit.
Sedangkan, sumber terpercaya dari Desa Lambunu, Kecamatan Bolano Lambunu, mengungkapkan bahwa aktivitas PETI di wilayah tersebut masih berlangsung tanpa penindakan.
Sumber tersebut menyebutkan terdapat delapan alat berat ekskavator yang masih beroperasi di empat lokasi berbeda di Lambunu, yakni Duyung, Durian, Cabang, dan Mangivi, dengan masing-masing lokasi terdapat dua alat berat.
“Alat-alat berat itu sudah beroperasi selama dua bulan,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sebelumnya, diberitakan bahwa aktivitas PETI di Desa Lobu dan Lambunu kembali marak terjadi, dengan para penambang emas ilegal menggunakan alat berat ekskavator untuk menggali dan merusak hutan tanpa tersentuh hukum.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk tokoh pemuda di Parigi Moutong dan Jaringan Tambang (JATAM) Sulteng.
Masyarakat berharap pihak berwenang, khususnya Polda Sulteng, Polres Parimo, Tipidter Bareskrim Polri, dan POM TNI, segera menertibkan aktivitas PETI di Desa Lobu dan Lambunu agar para pelaku ilegal tersebut jera.








Komentar