Ketiga, semua pihak-pihak terkait harus melihat secara jernih permasalahan yang ada di PT GNI.
“Peristiwa bentrokan kemarin adalah imbas dari pihak perusahaan yang tidak pernah menjalankan kesepakatan-kesepakatan yang mereka sendiri telah setujui setiap melakukan pertemuan dengan pihak pemerintah daerah, DPRD dan stakeholder lainnya jika terjadi masalah-masalah yang melibatkan tenaga kerja,” tandasnya.
Keempat, semua pihak harus melihat bahwa peristiwa di PT GNI kemarin adalah bagian dari rentetan-rentetan kejadian yang sebelumnya sering terjadi.
Peristiwa itu sudah berulang-ulang tanpa ada solusi dari manajemen PT GNI untuk menyelesaikannya.
Mulai dari kasus perekrutan dan pemagangan para pekerja di PT VDNI, penerapan K3 yang tidak sesuai aturan, kebutuhan APD untuk pekerja, hingga persoalan pemotongan upah yang diluar ketentuan yang ada.
“Kami juga menambahkan laporan-laporan dari kolega kami di Morowali Utara menyebutkan bahwa peristiwa yang terjadi adalah imbas dari kelalaian perusahaan PT GNI dalam menyikapi sejumlah poin-poin penting,” ujar Dedi.
Semua itu kata dia, Pemerintah Daerah dan DPRD Morut telah sampaikan, baik dalam RDP ataupun kunjungan langsung ke PT. GNI beberapa waktu lalu, serta sejumlah tuntutan dari para pekerja yang telah lama mereka suarakan.
Dedi kembali menegaskan, peristiwa ini merupakan imbas dari kelalaian mereka sendiri, karena telah mengabaikan sejumlah poin-poin penting yang pemda dan DPRD Morut sampaikan di berbagai kesempatan, serta beberapa tuntutan yang disuarakan oleh para pekerja.
“PT GNI acuh sehingga peristiwa yang terjadi kemarin itu adalah bagian dari akumulasi kesalahan-kesalahan mereka yang tidak disadarinya,” tandasnya.
Baca: PT GNI Diduga Abai K3, Anwar Hafid: Membawa Kecelakaan, Kerusakan, dan Penderitaan Rakyat








Komentar