gNews.co.id – Seorang mahasiswi Universitas Tadulako (Untad) Palu angkat suara menanggapi kritik tajam dari sejumlah pihak di Sulawesi Tengah (Sulteng) yang menilai Program BERANI Cerdas sebagai bentuk pemborosan anggaran.
Tuduhan itu dinilainya sebagai pernyataan sembrono, tanpa empati, serta mencerminkan ketidakpahaman terhadap realitas sosial masyarakat.
Mey Mulyana (20), mahasiswa Fakultas Hukum Untad sekaligus penerima manfaat program tersebut, menyatakan bahwa pandangan politisi yang mengkritisi beasiswa ini sangat melukai hati rakyat. Menurutnya, di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, program beasiswa ini menjadi instrumen krusial bagi keberlangsungan pendidikan warga.
“Alokasi anggaran negara, sekecil atau sebesar apa pun, selama disalurkan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat, tidak dapat dikategorikan sebagai pemborosan. Itu adalah hak rakyat yang harus ditunaikan,” tegas Mey saat ditemui di Palu, Selasa (28/4/2026).
Mey menyayangkan sikap pihak-pihak tertentu yang justru berseberangan dengan aspirasi konstituennya.
Ia menekankan bahwa gagasan pro-rakyat semestinya lahir dari inisiatif legislatif sebagai representasi suara masyarakat, bukan malah menjadi penghambat.
Bagi Mey, Program BERANI Cerdas yang digagas Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan jaring pengaman pendidikan yang sangat nyata.
Ia menceritakan momen krusial saat mendaftar program tersebut, di mana ia harus kehilangan ayahandanya, yang kemudian disusul wafatnya sang ibu sesaat setelah beasiswa itu cair.
Baca: Mengapa Wajib BERANI Cerdas? Praktisi Sebut Amanat Konstitusi, Solusi bagi Warga Miskin













Komentar