gNews.co.id – Jejaring relawan yang selama ini tumbuh melalui berbagai momentum sosial dan politik di Sulawesi Tengah (Sulteng) dinilai perlu kembali dirangkai dalam satu wadah.
Atas dasar itu, Perisai Tadulako Sulteng dibentuk untuk mengonsolidasikan kembali jaringan relawan sekaligus pegiat pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Perisai Tadulako Sulteng lahir dari proses panjang membangun kerja-kerja relawan militan, mulai dari Central Pemenangan Rusdy Mastura (CPRM), Suara Relawan (SUAR), Gerak Sulteng NSL, hingga Perisai NSL.
Pada pilkada gubernur, wali kota, dan pemilihan legislatif, simpul-simpul ini bertransformasi menjadi Relawan Perisai Tadulako Sulteng.
Metode kerja Perisai Tadulako Sulteng tetap konsisten pada kerja-kerja berbasis data yang terukur, memiliki basis data, dan berbasis teknologi informasi.
Proses panjang keanggotaan organisasi ini juga mengalami seleksi alamiah, sehingga mereka yang setia hingga hari ini adalah orang-orang terbaik dan teruji melalui kerja-kerja kerelawanan.
Konsolidasi awal, perubahan nama, dan peninjauan pemetaan tokoh telah dilakukan sejak Februari 2026.
Perisai Tadulako Sulteng hadir di 13 kabupaten/kota dengan pendekatan segmentasi simpul pada lintas pelaku, suku, agama, komunitas, termasuk milenial dan Gen Z.
Ke depan, organisasi ini diharapkan dapat berkembang dalam visi dan gagasan demokrasi, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat, tidak hanya pada kerja-kerja politik praktis.
Pilar utama Perisai Tadulako Sulteng terletak pada simpul-simpul relawan gerakan politik akar rumput (grassroots political movement) dan sangat menghindari kerja-kerja elitis.
Unsur-unsur pengurusnya digagas oleh para pelaku/pegiat pemberdayaan masyarakat yang telah teruji dalam kerja kemasyarakatan di berbagai program, lalu berkembang ke lintas paguyuban dan komunitas lainnya.
Husin Alwi, praktisi pemberdayaan, konsultan pemberdayaan, dan konsultan politik, didaulat menjadi Ketua Umum Perisai Tadulako Sulteng karena kapasitas dan pengalamannya yang telah teruji dalam berbagai momentum konstelasi politik.
Husin merupakan penerima pin emas dari Presiden, tenaga ahli menteri, serta penggagas dan pendamping lahirnya program padat karya Kota Palu.
Ia berharap rumah besar relawan militan ini dapat berkontribusi nyata pada gagasan pembangunan Sulteng.
“Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau memulai lagi,” jelas Husin Alwi kepada media, Senin (28/6/2026).
Ketua Umum Perisai Tadulako Sulteng, Husin Alwi, mengatakan pembentukan organisasi tersebut berangkat dari kondisi jejaring relawan yang kembali tersebar setelah sejumlah momentum politik, termasuk pemilu legislatif dan pilkada.
Menurut Husin, jaringan itu sebelumnya telah terbentuk secara alamiah melalui berbagai aktivitas sosial, pemberdayaan masyarakat, maupun kerja-kerja kerelawanan di lapangan.
“Perisai Tadulako Sulteng merupakan wadah untuk kembali mengonsolidasikan jaringan relawan yang selama ini terbangun melalui kerja-kerja kerelawanan,” ujar Husin.
Ia menjelaskan, keberadaan Perisai Tadulako tidak semata-mata diarahkan pada kepentingan politik elektoral, tetapi juga menjadi ruang bagi para pegiat pemberdayaan masyarakat.
Baca: Pekikkan Dua Periode Prabowo dari Sulteng hingga Target Kursi PRI ke Senayan














Komentar