Kecamatan Lambunu, Taopa, dan Moutong di Kabupaten Parigi Moutong (Sulteng) menyimpan kisah kelam yang terus berulang akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Di daerah-daerah ini, PETI bukan sekadar pelanggaran hukum.
Oleh: DEDI ASKARY
Ia telah menjelma menjadi ancaman multidimensi menggerus sendi sosial, merusak tatanan ekonomi lokal, sekaligus meluluhlantakkan lingkungan hidup yang menopang kehidupan masyarakat.
Tulisan ini mencoba memberikan pembacaan lebih mendalam mengenai nelangsa yang mengemuka di sekitar kawasan tambang ilegal tersebut.
Dampak Sosial: Retaknya Relasi dan Munculnya Lingkaran Kekerasan
Salah satu dampak paling terasa dari maraknya PETI adalah retaknya hubungan sosial di tengah masyarakat.
Arus pekerja pendatang yang masuk secara masif ke Lambunu, Taopa, dan Moutong kerap memicu kecemburuan sosial.
Perebutan lahan, silang klaim kepemilikan, serta perbedaan pandangan mengenai pemanfaatan sumber daya alam menjadi sumber konflik yang sulit dihindari.
Dalam banyak kasus, PETI juga membuka ruang bagi meningkatnya kriminalitas: pencurian, praktik judi, peredaran minuman keras, hingga prostitusi.
Kehadiran aktivitas-aktivitas ini mengubah lanskap sosial desa yang sebelumnya rukun menjadi lingkungan yang tidak lagi aman bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya.
Lebih jauh, nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat perlahan terkikis oleh pola hidup konsumtif dan instan yang dibawa oleh ekonomi tambang ilegal.
Dampak Ekonomi: Ketergantungan, Ketidakpastian, dan Ketimpangan
Secara ekonomi, PETI menciptakan paradoks. Ia menawarkan pendapatan cepat, namun pada saat yang sama membentuk ketergantungan yang destruktif.
Di hulu Sungai Taopa dan Lambunu, banyak warga meninggalkan mata pencaharian tradisional seperti bertani dan melaut demi mengejar emas.
Akibatnya, sektor pertanian melemah, produktivitas menurun, dan ketahanan pangan keluarga menjadi rentan.
Pendapatan dari PETI juga tidak stabil. Fluktuasi harga emas, risiko kecelakaan kerja, serta tidak adanya perlindungan sosial membuat para penambang hidup dalam ketidakpastian.
Ironisnya, keuntungan besar dari PETI sering kali hanya mengalir ke segelintir pemilik modal, sementara sebagian besar masyarakat hanya mendapat sisanya dalam jumlah yang tidak seberapa.
Ketimpangan ini memperlebar jurang sosial dan memperkuat struktur ekonomi yang tidak adil.
Dampak Lingkungan: Ekosistem Rusak dan Krisis Air Bersih
Kerusakan lingkungan menjadi dampak paling nyata sekaligus paling mengancam keberlanjutan hidup masyarakat di hilir Sungai Taopa.
Deforestasi masif, erosi tanah, dan pembukaan lahan tanpa kendali telah merusak bentang alam. Penggunaan merkuri dan sianida menambah persoalan baru pencemaran air dalam skala yang mengkhawatirkan.
Sungai yang menjadi tumpuan aktivitas sehari-hari warga kini berubah menjadi saluran racun yang membahayakan kesehatan manusia dan kehidupan biota.
Hilangnya tutupan hutan menyebabkan berkurangnya kemampuan daerah menyerap air, sehingga risiko banjir dan longsor meningkat.
Krisis air bersih yang kini dialami masyarakat, khususnya di Taopa adalah bukti bahwa kerusakan lingkungan akibat PETI tidak hanya merusak ruang hidup, tetapi juga mengancam keselamatan warga.
Analisis Akar Masalah: Sistem yang Lemah dan Ekonomi yang Sulit
Nelangsa ini tidak hadir dalam ruang kosong. Ada akar persoalan yang saling bertaut: kemiskinan struktural, terbatasnya lapangan kerja, lemahnya pengawasan, minimnya kehadiran negara, dan rendahnya kesadaran lingkungan.








Komentar