gNews.co.id – Seorang tokoh pemuda Jalan Anoa, Fahrudin, meminta aparat keamanan dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palu mengambil langkah konkret guna menyelesaikan konflik antara warga Nunu dan Anoa yang kembali memanas.
“Kami berharap kepolisian dan pemerintah kota melakukan langkah-langkah yang dianggap perlu agar kejadian ini tidak terulang lagi,” ujar Rudi Gondrong, sapaan karib Fahrudin, dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Bentrokan antara warga Kelurahan Nunu dan Anoa kembali pecah pada Kamis (6/8/2026) malam sekitar pukul 11.30 WITA di kawasan Jembatan Lalove dan Jalan Anoa, Kota Palu.
Kedua kubu saling serang dengan membawa senjata tajam seperti busur dan parang. Suara dentuman keras disertai percikan kembang api dan anak panah berseliweran di tengah pertikaian.
Menurut Rudi Gondrong, insiden dipicu oleh masuknya warga Nunu ke wilayah Jalan Anoa, sebagaimana terjadi pada kejadian sebelumnya.
“Keluarga dari Nunu masuk lagi di Anoa tadi malam seperti kejadian pertama. Kalau mereka masuk lagi, tentunya kami di Anoa akan merespons dengan tegas, karena mereka membawa busur dan parang,” tandasnya.
Rudi berharap semua pihak dan para tokoh saling menahan diri serta duduk bersama secara kekeluargaan. Ia menegaskan warga Jalan Anoa tidak menginginkan benturan antarsesama keluarga, apalagi sampai menimbulkan korban.
Dalam pesan perdamaian yang dikirim melalui WhatsApp, Rudi mengutip ayat Alquran Surat Al-Hujurat ayat 10.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati,” tulis Rudi Gondrong.
Perdamaian Dini Hari
Dilansir dari karebasulteng.com, bentrokan mereda sekitar pukul 03.00 dini hari setelah aparat kepolisian bersama TNI berhasil melerai kedua kubu. Di tengah Jembatan Lalove, perwakilan dua wilayah dipertemukan Kapolresta Palu, Kombes Pol Hari Rosena.
Dalam negosiasi, perwakilan warga Nunu meminta kepolisian segera menangkap tersangka pelaku pengeroyokan seorang petugas keamanan.
“Masih ada beberapa pelaku yang belum tertangkap. Warga Nunu menginginkan pelaku utama penebasan ditangkap,” ujar perwakilan warga Nunu.
Sementara perwakilan warga Anoa menyebut warga Nunu-lah yang lebih dulu menyerang wilayah mereka.
Kapolresta Palu meminta kedua belah pihak membuat pos piket di perbatasan wilayah masing-masing.
“Solusinya buat saja piket di dua wilayah yang bertikai. Bila perlu di tengah jembatan kita adakan permainan domino bersama. Ini bukan zaman kerajaan Majapahit saling berperang. Kalau ada saran, bisa diutarakan agar suasana kondusif,” katanya.
Baca: Polresta Palu Deteksi 18 Geng Motor, Kombes Pol Barliansyah Sebut Segera Dilakukan Tindakan!









Komentar