Erwin mengkritik pola penanganan yang konvensional dan tidak menyeluruh. Menurutnya, perbaikan hanya berpindah dari satu titik ke titik lain tanpa menyentuh akar masalah geoteknis yang ada.
“Masyarakat menilai tidak ada solusi konkret. Kontraktor mungkin diuntungkan, tetapi pengguna jalan yang terus menanggung dampak buruknya,” katanya.
Ia menegaskan perlunya evaluasi serius terhadap model penanganan.
“Pertanyaan besarnya, apakah tidak ada model lain? Pasti ada. Biaya besar tidak masalah, asalkan sekali dikerjakan, hasilnya efektif, efisien, dan menyelesaikan masalah untuk jangka panjang,” tegas Erwin.
Sejak lama, Jalan Kebun Kopi telah menyandang stigma sebagai “proyek abadi” lantaran masalah longsor dan genangan air yang tak kunjung usai, meski telah menelan anggaran yang sangat besar setiap tahunnya.
Baca: Proyek ‘Abadi’ Jalan Kebun Kopi Telan APBN Ratusan Miliar yang Belum Selesai? Zulfakar Singgung Muhidin Said














Komentar