Ragam Kearifan Lokal: Sulteng Daerah Mozaik Budaya Bukan Monokultur

gNews.co.id – Pusat Studi Budaya Lokal Palu menyelenggarakan Diskusi Ngaji Budaya dengan tema ‘Merajut Nilai-Nilai Luhur di Sulawesi Tengah’ pada Sabtu malam (10/01/2026) malam.

Acara yang digelar di ruang publik Jalan Diponegoro, Kota Palu ini, berhasil menarik minat puluhan peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, dan pegiat budaya.

Sebagai pemantik diskusi, Muhammad Nur Ahsan, M.Hum., Kandidat Doktor Ilmu Sejarah dan pakar budaya lokal, memaparkan analisis mendalam mengenai kompleksitas budaya dan tantangan generasi dalam memahami warisan luhur daerah.

Generasi di Persimpangan Zaman

Dalam paparannya, Nur Ahsan membuka diskusi dengan menyoroti perubahan dinamika generasi, dari Generasi X yang akrab dengan telepon koin dan wartel, hingga Generasi Z dan Alpha yang lahir di era digital.

“Kita hidup dalam masa transisi unik. Saya sendiri bermain Mobile Legends bersama anak saya yang termasuk Generasi Alpha,” ujar Nur Ahsan.

Hal ini menunjukkan betapa cepat dan berbedanya lingkungan sosial dan teknologi yang membentuk setiap generasi.

Ia menekankan peran pendidik, baik guru maupun dosen, untuk beradaptasi.

“Dosen, misalnya, tidak hanya mengajar, tetapi juga dituntut menghasilkan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat yang relevan dengan konteks kekinian,” katanya.

Membedah Budaya dan Peradaban


Memasuki inti bahasan, Nur Ahsan mengajak peserta untuk membedakan konsep budaya (culture) dan peradaban (civilization).

Budaya, menurutnya, bersifat lebih komunal dan spesifik pada suatu kelompok, seperti perbedaan budaya antar kampus.

“Sementara peradaban adalah tatanan nilai yang lebih luas dan menghubungkan banyak komunitas, seperti Peradaban Barat, Cina, India, atau Melayu,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa Peradaban Timur Tengah tidak bisa disamakan secara mutlak dengan Peradaban Islam, karena masing-masing memiliki akar dan konteks sejarah yang berbeda.

Sulawesi Tengah: Mozaik Budaya, Bukan Monokultur

Poin penting yang ditekankan Nur Ahsan adalah penolakan terhadap penyamarataan budaya Sulteng. Ia menegaskan bahwa provinsi ini bukan merupakan satu entitas budaya tunggal seperti Budaya Kaili.

Menyamakan seluruh masyarakat Sulteng dengan budaya Kaili adalah kekeliruan. Budaya orang Kaili sangat berbeda dengan masyarakat di Pantai Timur, seperti Suku Lauje.

Baca: Lipu Celebes Festival Memukau Ribuan Mata Penonton Gema Budaya Banggai Menggaung ke Mancanegara

Komentar