Selain itu, Rival juga mendesak Kapolda Sulawesi Tengah agar segera menangkap seluruh oknum-oknum yang terlibat dalam dugaan pemalsuan dokumen penerbitan IUP PT BDW di Kabupaten Morowali. Ia bahkan melontarkan kritik tajam terhadap Kapolda.
“Kalau tidak mampu lagi menduduki jabatan kapolda, mohon tinggalkan Sulteng, tidak ada prestasi,” tegasnya.
Rival juga mengungkapkan adanya dugaan intimidasi yang dialaminya. Ia menduga ada oknum aparat yang telah berkomunikasi dengan pihak perusahaan untuk membatalkan aksi pencabutan IUP PT BDW.
“Karna saya telah diancam jam 4 subuh akan dibunuh, anak serta istrinya mau dipenggal, tapi saya tetap datang membawa aspirasi,” tandasnya, menunjukkan tekadnya untuk terus menyuarakan aspirasi masyarakat.
Aliansi mahasiswa bersama masyarakat memberikan ultimatum tiga hari kepada Polda Sulteng dan Pemerintah Provinsi untuk segera merekomendasikan pencabutan IUP PT BDW serta menangkap para oknum yang terlibat dalam pemalsuan dokumen. Ancaman serius dilontarkan jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
“Jika tuntutan kami tidak dipenuhi, akan ada 5 ribu massa aksi mengepung Polda dan Kantor Gubernur Sulteng, kami tidak suka drama, kami mau ketegasan,” jelas Rival.
Mereka menegaskan keseriusan gerakan mereka dalam mengawal kasus ini hingga tuntas.














Komentar