“Hari ini menjadi momen bahagia. Dulu ayah saya yang meletakkan batu pertama, kini saya berkesempatan hadir meresmikan. Ini adalah sejarah keluarga dan sejarah keagamaan,” ungkap Wagub Reny.
Ia juga memuji soliditas dan progresivitas umat Buddha di Sulteng, yang meskipun jumlahnya kecil, mampu mendirikan sekolah dan vihara megah yang mencerminkan semangat kebersamaan.
Wagub Reny menutup sambutannya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk terus merawat keberagaman dan persaudaraan di Sulawesi Tengah, sesuai dengan filosofi lokal Nosarara Nosabatutu (bersaudara dan bersatu).
Arsitektur Souraja dan FasilitasVihara Karuna Dipa kini berdiri megah sebagai pusat kegiatan keagamaan Buddha Theravada di Kota Palu.
Kompleks vihara mencakup Candi, Dhammasala, Taman Lumbini, serta fasilitas pendidikan yang dikelola di bawah Yayasan Karuna Dipa.
Dengan mengadopsi arsitektur bercorak Souraja rumah adat tradisional Sulteng vihara ini tidak hanya merefleksikan nilai spiritual, tetapi juga menjadi wujud apresiasi terhadap kekayaan budaya lokal, mempromosikan suasana yang damai dan toleran.
Baca: Wijaya Chandra Kembali Nahkodai FPK Kota Palu Periode 2025–2029








Komentar