Tumbangnya Pengisap Karbon Tergerus Wajah Beton, Neni Muhidin: Pohon Jauh Lebih Berguna Dibanding Betonisasi

gNews.co.id – Di jantung Kota Palu yang kerap terengah oleh debu beton dan terik, sebuah peristiwa diam-diam menyayat nurani.

Sebatang pohon mahoni tua, yang selama puluhan tahun setia menjadi pelindung dan peneduh di depan Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), akhirnya tumbang.

Ia rebah bukan oleh amuk alam, melainkan oleh tebasan tangan manusia yang berlindung di balik dalih pembangunan.

Kepergian sang raksasa hijau itu membangkitkan gelombang duka dan protes dari warga kota, termasuk suara lantang Neni Muhidin, seorang seniman, penulis, dan pegiat literasi.

Baginya, ini bukan sekadar penebangan pohon, melainkan sebuah “pembunuhan” terhadap saksi bisu kota yang telah memberikan napas.

“Pohon mahoni yang ditebang itu jauh lebih berguna dibanding betonisasi yang berlindung di balik proyek penataan ruang, jalan, drainase, atau bahkan karena kabel listrik,” tegas Neni pada Jumat (19/12/2025) malam.

Dengan nada geram, ia menegaskan pohon mahoni tersebut jauh lebih berjasa. Pohon tua menyerap karbon polutan, di saat yang sama memproduksi oksigen bagi warga, mengurangi hawa panas matahari, serta urban heat spot atau titik panas kota

Pohon itu adalah pengisap karbon yang sunyi, pabrik oksigen yang tak bersuara, dan payung alami yang meredam panas. Kini, apa yang tersisa.

“Betonisasi yang hanya menambah panas kota kita yang sudah sesak oleh debu dan dikepung tambang,” katanya.

Bagi Neni, janji penggantian pohon yang kerap menjadi jawaban atas aksi serupa hanyalah pengobat luka yang semu.

Ia menegaskan, yang hilang adalah sejarah ekologis, kesejukan yang terakumulasi puluhan tahun, dan sebuah ekosistem mini yang tak tergantikan oleh bibit muda.

Selama ini, kecaman soal penebangan hanya selalu dijawab dengan penggantian pohon.

Bangsat, lawan, saya disampingmu gubernur,” tandas Neni Muhidin.

Dengan semangat yang berkobar, Neni Muhidin, yang juga dikenal sebagai pendiri Perpustakaan Nemu Buku dan aktif di dunia Pengurangan Risiko Bencana (PRB) sejak 2008, menyampaikan seruan langsung kepada Gubernur Sulteng, Anwar Hafid.

“Bilang gubernur segerakan itu hutan kota depan Kampus Unismuh. Kembalikan fungsinya sebagai paru-paru kota. Tanam pohon beragam di situ, jadi jalur trek jalan dan edukasi,” katannya.

Neni mengaku berdiri saat sini, di sisi warga, menyuarakan kecaman penebangan pohon tersebut. Oleh sebab itu, Dia mendorong Gubernur Anwar Hafid, mempercepat pemberdayaan hutan kota di depan Kampus Unismuh. Kembalikan ia sebagai paru-paru kota yang sesungguhnya.

Baca: Pohon Depan Rujab Gubernur Ditebang, Anwar Hafid Meradang: Siapa pun Pelakunya, Balai Jalan atau PLN Wajib Ganti tak Bisa Ditolerir

Komentar