Tumbangnya Pengisap Karbon Tergerus Wajah Beton, Neni Muhidin: Pohon Jauh Lebih Berguna Dibanding Betonisasi

Jadikan ia ruang hijau dengan aneka pepohonan, jalur trek yang rindang, dan laboratorium edukasi bagi generasi mendatang.

Sebagai informasi, Muhidin dikenal aktif dalam kegiatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) sejak 2008.

Ia juga pernah bekerja di Lembaga Studiers Pembangunan serta pernah kuliah filsafat ekstensif di Universitas Parahyangan.

Kecaman suaranya yang tidak hanya emosional, tetapi juga berbasis pada refleksi mendalam tentang hakikat ruang hidup manusia.

Tumbangnya mahoni di Jalan Muhammad Yamin bukanlah sekadar berita singkat. Ia adalah alegori pilu dari kota yang sedang kehilangan napas, di tengah pergulatan abadi antara hijau yang menyejukkan dan beton yang terus menggeliat.

Kini, pertanyaannya terbuka, akankah suara-suara yang merindu rindang ini didengar, atau hanya akan hilang ditelan deru proyek berikutnya?

Baca: Anggota Dewan Nasional WALHI Desak Gubernur Sulteng Bertindak Tegas Hentikan Dugaan PETI di Lambunu, Hulu Sungai Taopa, dan Lobu

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Komentar