gNews.co.id – Proyek River Improvement and Sediment Control Sabo Dam I, II, dan III di Sungai Desa Bangga, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali menjadi sorotan.
Kali ini, laporan masyarakat menyebutkan bahwa pembangunan tanggul penahan banjir tidak menggunakan material batu boulder berstandar, sebagaimana seharusnya.
Proyek senilai Rp78,8 miliar yang dikerjakan oleh perusahaan konstruksi asal Padang, Sumatera Barat telah memasuki tahap Penyerahan Hasil Pekerjaan (PHO).
Namun, sejumlah warga mengklaim bahwa material batu boulder (berukuran 25 cm hingga 60 cm ke atas) yang digunakan untuk tanggul di Desa Bangga tidak diambil dari Loli, Kota Palu, melainkan hanya memanfaatkan batu lokal.
Batu Lokal vs Batu Standar: Kualitas Dipertanyakan
Pejabat Pelaksana Kegiatan (PPK) proyek, Kusyanto, mengakui bahwa tanggul di Desa Bangga memang menggunakan batu lokal dari Sungai Bangga, bukan batu boulder dari Loli.
“Iya, memang batu itu bukan dari Loli. Batu itu adalah batu setempat yang ada di Sungai Bangga dan disusun kembali,” jelas Kusyanto saat dikonfirmasi pada Senin (28/7/2025).
Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan batu lokal tidak melanggar aturan.
“Yang terbayarkan hanyalah penyusunannya. Batu itu sendiri tidak kami bayar. Jadi, mata pembayaran adalah pekerjaan penyusunan, bukan material batu,” tegasnya.
Meski demikian, warga Desa Bangga meragukan daya tahan batu lokal dibandingkan batu Loli yang terkenal lebih kuat.
“Setahu kami, tanggul seperti ini seharusnya pakai batu berstandar, seperti batu gajah Loli. Kalau pakai batu lokal, kami khawatir tidak tahan lama,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Perbedaan Perlakuan: Desa Bangga vs Desa Jonoge
Yang lebih mengherankan, tanggul di Desa Jonoge, Kecamatan Sigi Biromaru yang masih bagian dari proyek yang sama justru menggunakan batu boulder dari Loli. Padahal, Desa Bangga lebih rentan banjir.
Baca: Dugaan Penyimpangan Material Proyek Rp78 Miliar di Sigi, Batu Boulder tak Sesuai Spesifikasi?








Komentar