Menurut ART, tindakan Dirsamapta tersebut tidak dapat dibenarkan, baik secara personal maupun institusi. Ia menekankan bahwa masyarakat akan menyoroti Polda Sulteng sebagai institusi tempat Dirsamapta bertugas.
“Citra institusi Polri, lebih khusus Polda Sulteng, tercederai lagi gara-gara tindakan tidak terpuji Dirsamapta,” sesalnya.
ART juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak jangka panjang.
“Sedangkan belum menjadi seorang jenderal sudah seperti ini, bagaimana kalau sudah jenderal. Waduh, ini saya minta menjadi catatan institusi Polri kepada Dirsamapta,” imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa anggota Polri seharusnya menjadi pengayom masyarakat, bukan malah mempertontonkan tindakan yang terkesan premanisme, terutama di tengah gencar-gencarnya Polri memberantas aksi premanisme.
Lebih lanjut, ART menyatakan dukungannya kepada keluarga korban yang keberatan atas insiden tersebut. Ia menilai wajar dan manusiawi jika ayah korban tidak menerima perlakuan terhadap anaknya, yang disebutnya sebagai masalah sepele yang seharusnya bisa dimaklumi oleh seorang calon jenderal.
ART mendesak pimpinan Polda Sulteng untuk memberikan sanksi tegas kepada Dirsamapta. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada sanksi, masyarakat akan memberikan penilaian negatif kepada Polda Sulteng, bahkan memunculkan opini liar yang dapat merusak kepercayaan publik.
“Jangan biarkan masyarakat memberi penilaian yang tidak-tidak kepada Polda Sulteng. Ternyata bukan hanya Dirsamapta seorang yang arogan, tapi juga Polda Sulteng secara umum. Penilaian begini akan membuyarkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian,” tandas Sekjen Laskar Merah Putih ini.








Komentar