Kontribusi PT KLS Salah Satu Kunci Ekonomi Sulteng, Setor Rp50 Miliar Lebih Pajak sampai Oktober 2025

gNews.co.id – Perusahaan sawit ini mencatatkan kontribusi fiskal signifikan dan mendorong perputaran ekonomi lokal lebih dari Rp300 miliar per tahun.

Industri kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung perekonomian Sulawesi Tengah (Sulteng).

Di antara pemain utamanya, PT Kurnia Luwuk Sejati (PT KLS) konsisten memberikan kontribusi nyata melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, dan sumbangan penting bagi penerimaan negara dan daerah.

Berdiri sejak 1984 dengan nama awal PT Kurnia sebelum berganti nama pada 1985, perjalanan PT KLS terus berkembang seiring dinamika industri sawit nasional.

Momen penting dimulai pada 2001 dengan pendirian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) pertama di Desa Toili, Kabupaten Banggai.

Ekspansi dan peningkatan kapasitas dilakukan bertahap. Pada 2003, kapasitas ditingkatkan menjadi 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam dengan pembangunan dermaga. Akselerasi signifikan terjadi pada 2007 saat kapasitas PKS mencapai 60 ton TBS per jam.

Kontribusi Fiskal yang Konsisten

Kiprah strategis PT KLS tercermin dalam kontribusi pajaknya. Data hingga Oktober 2025 menunjukkan, realisasi pembayaran pajak perusahaan mencapai Rp50,78 miliar.

Rinciannya, kontribusi ke daerah tercatat Rp529,05 juta, yang mencakup Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Air Permukaan, dan Pajak Kendaraan Bermotor.

Sementara, setoran ke negara mencapai Rp50,25 miliar, berasal dari PBB HGU, PPN, PPh Pasal 25/29 Badan, dan PPh Pasal 21.

Dalam perspektif lebih panjang, selama lima tahun terakhir, total kontribusi pajak daerah PT KLS di Sulteng mencapai Rp4,51 miliar, dan kontribusi ke negara menembus Rp284,46 miliar.

Nilai ini turut memperkuat kapasitas fiskal daerah melalui mekanisme Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2023.

Dampak Ekonomi Langsung dan Multiplier Effect

Di luar kontribusi fiskal, dampak ekonomi PT KLS terasa langsung di masyarakat. Sebagai perusahaan padat karya, PT KLS menjadi penggerak ekonomi di wilayah Moilong, Toili, Toili Barat, hingga Luwuk Timur.

Perputaran uang di kawasan ini diperkirakan mencapai Rp310 miliar per tahun atau lebih dari Rp25 miliar per bulan.

Angka ini bersumber dari pembelian TBS petani plasma, upah tukang panen, dan gaji ribuan karyawan dalam rantai bisnis perusahaan, menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menguatkan perdagangan dan jasa lokal.

Kemitraan dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam keterangan tertulisnya, manajemen PT KLS menegaskan orientasi operasionalnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Baca: Hampir Tiga Dekade Beroperasi, PT KLS Klaim Taat Koridor Hukum

Komentar