Para mahasiswa baru harus diingatkan dengan cara-cara yang lebih persuasif, mendidik, terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Menghukum pun boleh, tapi tidak melakukan kekerasan fisik.
“Seperti TNI yang menjadi orang tua kandung Menwa, mereka punya berbagai metoda dalam pendekatan kepada masyarakat. Ada pola-pola persuasif untuk mengajari bahkan menegor masyarakat,” tambah Berni.
Memang, hematnya, tak mudah menjadi pemimpin dalam organisasi intelektual berjiwa patriot seperti Menwa. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan trengginas agar Menwa dapat berkiprah sesuai cita-cita Bangsa.
Baca: Ini Poin MoU Bank Artha Graha dan JMSI, Ada Fasilitas Modal untuk Anggota Organisasi
Filosofinya, ujar Berni, ‘Tanpa standar dalam pelaksanaan kepemimpinan, itu seperti memelihara burung pelatuk dalam pokok pohon besar. Si Pelatuk akan melubangi perlahan pokok kayu itu dari dalam sampai pohonnya roboh’.
Olehnya, ia berharap, Resimen Menwa di Unida harus dapat menunjukkan keteladanan dalam kepemimpinan dan perilaku yang sabar dan tidak kaku. Ia juga meminta agar Menwa di Bogor dapat bersolidaritas pada apa yang menimpa Batalyon VII/Surya Kencana. Menwa mestinya bersatu membantu penyelesaian masalah-masalah seperti itu dengan mengutamakan persatuan dan kebersamaan.
“Upayakan cara-cara konstruktif dan terpelajar untuk menyelesaikan masalah-masalah seperti yang terjadi di Universitas Djuanda ini,” tandas Berni.
Baca: Apa Isi Surat Kepercayaan Delapan Duta Besar Negara Sahabat untuk Jokowi?








Komentar