Silang pendapat itu pun kemudian ditengahi. Namun saat salah seorang senior Menwa ingin menengahi, para anggota BEM menampiknya sampai kemudian terjadi gesekan. BEM lalu mengeluarkan siaran pers yang mendiskreditkan eksistensi Menwa.
Baca: Ini Ikan Asal Banggai Bersaudara Jadi Kebanggaan Nasional
Akibat kejadian itu, Menwa pun dituding membudayakan kekerasan dan militerisme. Padahal, para anggota Menwa yang bertugas hanya melaksanakan penegakan disiplin. Sikap tegas mereka saat menghadapi mahasiswa baru dinilai sebagai bentuk kekerasan verbal.
Sejauh ini belum dilaporkan perkembangan terbaru kejadian tersebut. Hanya saja, baik BEM maupun Menwa tengah cooling down.
Sebenarnya, bila mau belajar, keberadaan Menwa di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara dapat menjadi contoh
Wakil Rektor III Unhalu Dr. Nur Arafah menyebutkan keberadaan Menwa di kampus dapat diterima semua pihak.
“Di sini, Menwa sangat diterima keberadaannya karena sabarnya Menwa dan banyaknya Menwa berprestasi di luar kampus,” kata Nur Arafah dalam kesempatan bedah buku Menwa Terabaikan di Simpang Zaman, Tetap Lurus Walau Salah Urus, pada Selasa 28 Juni 2022 lalu di Kampus UHO, Kendari.
Pendapat Berni, Menwa ini adalah anak – anak muda. Wajar masih emosional. Mereka semua mahasiswa masih dalam proses belajar.
“Namun, sebagai komponen pendukung pertahanan negara, harapan saya Menwa hendaknya mendahulukan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, karena menwa itu adalah komponen terlatih,” ungkapnya.
Baca: Di Depan Pendemo, Politisi Perempuan Ini Tegas Tolak Kenaikan BBM








Komentar